Arsip adalah ‘Senjata’ : Seputar Deklasifikasi Dokumen Pemerintah AS Serta Akses Publik atas Arsip Nasional RI terkait Peristiwa 1965

foto cover karya Nobodycorps Internationale Unlimited

“Kan bagaimanapun pemerintah itu suatu birokrasi yang selalu tulis menulis, selalu ada laporan, selalu ada ini itu. ….. Dan saya yakin ada gudang yang penuh dengan segala macam dokumen, yang orang sekarang, malah tidak tahu ada apa di situ. Memang pada waktu reformasi lagi bergejolak, salah satu harapan tersembunyi dalam hati saya adalah bahwa anak-anak muda yang pergi rame-rame akan membongkar gudang-gudang ini dari tangan tentara dan tangan pemerintah. Seperti yang terjadi pada tahun 1965, di mana Deplu dibongkar, waktu itu banyak dokumen-dokumen dari zamannya Soebandrio, kan masuk gelanggang umum.”

Dipetik dari Wawancara Prof. Ben Anderson oleh Radio Nederland Siaran Indonesia , 2 September 2005

 

Duta besar Amerika di Indonesia pada waktu itu, Marshall Green, di dalam berbagai wawancara dan memoarnya menyatakan bahwa dukungan rahasia AS kepada tentara Indonesia pada waktu itu hanyalah beberapa walkie talkie dan obat-obatan. Namun dari arsip tahun 2001 dan dari laporan-laporan pers, kita tahu bahwa kedutaan besar Amerika di Jakarta juga memberikan daftar nama-nama anggota-anggota PKI kepada TNI Angkatan Darat – mungkin ada ribuan nama. Dan brifing harian (kepada presiden) juga mengisyaratkan adanya keterlibatan AS yang lebih besar (dalam pembantaian itu). Akan tetapi, cerita yang lebih lengkap hanya mungkin didapat jika ada lebih banyak dokumen AS dan catatan-catatan TNI-Angkatan Darat dibuka untuk umum.

dipetik dari Pembantaian 1965 di Indonesia: Apa Yang Diketahui Amerika Serikat – Margaret Scott

 

Dalam rancangan resolusi AS 2014, Senator Tom Udall menekan pemerintahan Obama untuk segera melakukan deklasifikasi dokumen AS terkait tragedi 1965.

“Ini adalah sejarah yang menyakitkan untuk diingat. Pada 1 Oktober 1965, enam jenderal Angkatan Darat Indonesia tewas. Menurut ulama, jenderal tersebut dibunuh oleh personel militer, tetapi Partai Komunis Indonesia [PKI] disalahkan atas kematian mereka, yang kemudian digunakan untuk dalih pembunuhan massal,” ujar Udall.

Udall mengakui bahwa Amerika Serikat terlibat dalam Tragedi 1965 yang berakibat pada pembantaian massal atau pemenjaraan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI tanpa proses pengadilan.
dipetik dari Menjelang Dibukanya Arsip Rahasia Amerika Soal 1965 – tirto

Perhaps nowhere does U.S. hypocrisy over human rights stand out more clearly than Indonesia’s “Year of Living Dangerously” slaughter of vast numbers of people in 1965, dirty secrets that Jonathan Marshall says finally deserve airing.
selengkapnya : Hiding the Indonesia Massacre Files By Jonathan Marshall

 

Berdasarkan dokumen-dokumen pemerintah AS yang selama ini dirahasiakan kajian mendetail ini menghadirkan pemahaman baru mengenai banyak peristiwa yang tidak diketahui umum. Buku ini merupakan sebuah sumbangan berharga bagi kajian sejarah Indonesia pascakolonial dan diplomasi Perang Dingin AS dan akan menjadi rujukan penting hingga bertahun-tahun mendatang

Sambutan John Rossa untuk buku Bradley R Simpson Economists with Guns – Amerika Serikat, CIA dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru. Bradley R Simpson adalah research fellow di National Security Archive dimana ia memimpin proyek deklasifikasi dokumen-dokumen AS berkaitan dengan Indonesia dan Timor Timur kini Timor Leste selama Suharto berkuasa antara tahun 1965-1998

 

 
This article was adapted from Economists with Guns: Authoritarian Development and U.S.-Indonesian Relations, 1960–1968 by Bradley Simpson.
 

Klik National Security Archive’s Indonesia / East Timor Documentation Project

Since 2002, the National Security Archive’s Indonesia / East Timor documentation project has sought to identify and obtain the release of thousands of secret US documents concerning US policy toward Indonesia and East Timor from 1965 to the present. The work aims to assist East Timorese and Indonesian official and nongovernmental efforts to document and seek accountability for more than three decades of human rights abuses committed during the rule of Indonesian President Suharto (1965-1998), and to contribute to current campaigns in Indonesia for more open government.

22366427_10214325663886188_1611815351878846658_n

22405729_10214370866776232_4281089049397774733_n

Namun dokumen bertajuk Foreign Relations of the United States (FRUS) 1964-1968: Indonesia, Malaysia, Singapore, Philippines, Volume XXVI itu terlanjur tersebar luas. Bahkan penerbit Hasta Mitra menerjemahkannya dan menerbitkan bundel dokumen itu dengan judul yang provokatif :

Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965 dengan kata pengantar dari Joesoef Isak, wartawan yang pernah ditahan Pemerintah Soeharto selama sepuluh tahun tanpa pengadilan. Tidak ada penyangkalan dari pihak pemerintah Amerika atas informasi yang terdapat di dalam dokumen-dokumen itu, kecuali beberapa bagian yang mereka hitamkan, menunjukkan tingkat kerahasiaan informasi.

dipetik dari Mulai Gilchrist Sampai WikiLeaks – historia

Kebocoran dokumen rahasia selalu membuat gusar penguasa. Baik dulu maupun sekarang.

22279553_10214325651365875_3656168035718705127_

22228484_10214325655845987_390524658667310733_n
22449842_10214370099477050_929495742003522174_n22549623_10214370099717056_8203025445744749976_n

22406187_10214370099917061_7110237810879621138_n

Sejak 2014, dunia penelitian di Indonesia, khususnya bidang sejarah, bak mendapat durian runtuh. Pasalnya, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) telah mempublikasikan arsip-arsip sekitar Peristiwa 65, walaupun konon belum semua bisa diakses. Pun demikian, ini merupakan angin segar bagi mereka yang konsen terhadap Peristiwa 65. Arsip-arsip mengenai periode ini antara lain dapat ditelusuri dari Inventaris Arsip (KOTI), Inventaris Arsip Kementerian Hubra, dan Inventaris Arsip SOBSI.

Selengkapnya Menelisik Khazanah Arsip Peristiwa 65 – Aan Ratmanto 

Lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI menegaskan telah membuka seluruh dokumen terkait 1965 kepada publik. Kepala Sub Bagian Pelayanan Arsip Nasional, Mira Puspitarini memastikan sebagian arsip terkait peristiwa 65 bisa diperoleh masyarakat yang ingin tahu lebih jauh terkait peristiwa tersebut.

“Masyarakat tinggal datang ke kantor kami, siapapun. Dan kami akan tunjukkan dokumen-dokumennya,” jelasnya.

Arsip-arsip itu meliputi peristiwa pasca pembunuhan ketujuh jenderal, mulai dari pemakaman tujuh jenderal hingga proses persidangan terhadap tokoh Partai Komunis Indonesia, Untung.

Mira menambahkan untuk peristiwa penculikan ketujuh jenderal yang kemudian dibunuh, hingga ini masih disimpan oleh pihak TNI.

“Bukan peristiwanya. Jadi arsip-arsip terkait partai-partai underbow-nya PKI yang kami miliki. Kalau peristiwa 1965, Arsip Nasional tidak menyimpan dan peristiwa itu masih disimpan di Mabes TNI,” katanya.

Selengkapnya Didesak Buka Arsip Peristiwa 65, ANRI: Itu Disimpan Mabes TNI – kbr

PEMBUKAAN ARSIP 1965 SEMBUHKAN LUKA SEJARAH – kompas

Acung jempol untuk kegigihan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan yg telah berhasil membuka gembok ‘gudang dokumen’ dan ‘membongkar’ arsip ‘terlarang’ berupa terbitan Harian Rakyat dan melahirkan buku Lekra Tidak membakar Buku, Gugur Merah dan Laporan Dari Bawah.

22448110_10214370192719381_7530787447097436464_n22448547_10214370193439399_6054518347927768797_ngugur_merah_dpnlaporan_dari_bawah_dpn

Simak 150 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s