Kaleidoskop Budaya : Melawan Hegemoni Sejarah Palsu Orde Baru (#Genosida65 Januari-Agustus ’17)

*catatan sementara sejauh yang dapat terpantau, masih terbuka untuk ditambahkan

 

Penghargaan Human Right Award of The Truth Foundation

 

19656936_299877917141132_3399100420833753114_n

Korban peristiwa 1965 terima anugerah HAM di Korsel – bbc indonesia

Bedjo Untung: Masih Ada Harapan Mengungkap Tragedi 65 – tirto.id

Korban 65 Raih Penghargaan Internasional – kbr68h

“Dengan adanya solidaritas dan friendship dari Korea Selatan, saya seolah-olah mendapat amunisi baru, kekuatan baru,”

Pidato Ketua YPKP 65 pada Penganugerahan “Human Right Award of The Truth Foundation” South Korea

 

DGoUWCdU0AA09RI

foto dari twitter @aksikamisan

 

 Tasrif Award 2017 (AJI Indonesia)  untuk Perempuan Kamisan dan Petani Kendeng

 

DFy4JYIUIAEyjLl

 

 

Penghargaan Blue Angel Award for Best Short untuk Film On The Origin of Fear

 

ON THE ORIGIN OF FEAR Trailer

 

On The Origin of Fear mendapatkan penghargaan Blue Angel Award for Best Short di ART FILM FEST Košice 2017.

Film pendek Indonesia ‘On the Origin of Fear’ masuk kompetisi Venice

Film ini ingin melawan reproduksi kekerasan pada Zaman Orde Baru yang selalu menampilkan tayangan berdarah tiap 30 September

 

 

Penghargaan Cerpen Pilihan Kompas untuk Martin Aleida

 

Martin Aleida Raih Penghargaan Cerpen Pilihan Kompas 2016 

 

2223323589

 Acara bertema Jamuan Malam Cerpen Kompas 2017 digelar di Ruang Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ), di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017) malam. Sastrawan Martin Aleida berhasil menyabet penghargaan Cerpen Terbaik Kompas lewat karyanya yang berjudul Tanah Air, yang dimuat Harian Kompas pada 19 Juni 2016.(KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN)

 

baca cerpen Tanah Air – Martin Aleida

Putu Oka Sukanta inaugural Herb Feith Foundation Human Rights Education Award recipient

 

Drink for humanity – Pat Walsh (Inside Indonesia)

8af3f96ef6c2c23bbef2630bdcf92415_w725

Author Pat Walsh with Pak Putu. (Credit: Pat Walsh)

 

 

Pentas Teater Gejolak Makam Keramat

DD4OMbOUQAA_v8o20170719-Tamarafoto-1-700x500

 foto dari Teater Tamara

20046763_10155463349080768_3986474744727590514_n

Mereka Yang Tak Mudah Menyerah – Kompas Minggu

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat” – Arie Kamajaya 

Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas YPKP65 

 

SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH SENI YANG ‘DIHILANGKAN’ – Ficky Tri Sanjaya*

 

 

PERFORMATIVE DINNER, 2017, Bakudapan

Berbagi kisah dengan para penyintas dalam riset terkait kekuatan solidaritas dan makanan dalam peristiwa 1965 dalam Performative Dinner oleh Bakudapan (Bakudapan Food Study Group) .

20374793_1462210130512501_5454741273999457843_n

 

 Peluncuran Film Semai Phala, Kisah Kehidupan Korban Tragedi 65 Kini

(berita)

 

Trailer Semai Phala

berdasarkan temuan penelitian Rekonstruksi Sosial Korban #Tragedi65 di Solo, Pati & Bali sila unduh

 

Untitled

Pameran Lorong Genosida 1965

Mengingatkan Negara Atas Peristiwa 1965 – historia.id

Pameran Repro Lorong Genosida 65-66 – aktual.com

 

Pameran Rangga Purbaya : Surat Kepada Seseorang Yang Hilang / Letter To The Lost One

 

dsc1459dsc1463

Simak lebih lanjut di

https://genosida1965wordpress.wordpress.com/2016/06/01/rangga-purbaya-surat-kepada-seseorang-yang-hilangletter-to-the-lost-one/

Peluncuran Buku Laporan Akhir Pengadilan Rakyat Internasional 1965 dan Dari Beranda Tribunal

Kedua buku diluncurkan bersamaan dengan rangkaian diskusi tematik di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Medan, Kupang dan Ambon

final-report_ipt-65-crop-depan

Review Buku. Saatnya Membaca: Laporan Akhir Pengadilan Rakyat Internasional -Eko Prasetyo

Tabur Garam Kepada Luka: Liturgi 1965 dalam Ibadah di Den Haag – Hartmantyo Pradigto Utomo

Review Buku Putusan Final IPT 65: Membaca Kembali Sejarah 1965 – Febriana Firdaus

DariBeranda-345x500

Bunga Rampai Kisah Relawan

Friends of International People’s Tribunal 1965

berikut beberapa petikan kisah para relawan ipt 65

“Saya tidak mengerti bahasa Indonesia. Tetapi curahan kemarahan dan kesedihan para saksi itu cukup berbicara. Jeritannya menikam emosi saya. Pada suatu saat, terjemahan Inggris mendadak bisu. Suara juru bahasa laki-laki yang tengah menerjemahkan terhenti. Yang terdengar di headphone hanyalah isakan tangisnya. Penerjemahan segera diambil alih oleh rekannya yang perempuan” – Szilvia Csevár

“Setiap penggal kisah itu seolah melemparkan saya ke masa itu. Tidak, bukan karena saya teringat kisah pribadi maupun keluarga saya. Hanya satu cerita alm. Ibu yang mungkin berkaitan dengan tragedi ini: “Aku sering rindu Mbak Karsih, sahabatku satu-satunya. Mereka banyak yang main ketoprak atau wayang, dan baik-baik orangnya. Tapi kok Mbak Karsih tiba-tiba nggak pernah kelihatan lagi setelah geger ’65…”. Itu saja yang saya ingat, bahkan nama Mbak Karsih pun saya yakin hanya bikinan otak saya saja sebab saya sudah lupa detilnya”- Elisabeth Ida Mulyani

Cukup dengan tiga kata: bermanfaat, menyenangkan, dan memilukan. Bermanfaat, karena saya belajar begitu banyak selama empat hari itu. Saya mengagumi kuatnya komitmen orang; keteguhan dan kegigihan yang menggerakkan maju semua mereka yang terlibat, demi mencapai tujuan yang diharapkan; keberanian para saksi; besarnya jumlah kerja yang dilaksanakan oleh sekelompok kecil orang secara sukarela, demi sebuah usaha besar yang hasilnya belum lagi pasti. Dan khususnya, saya diilhami oleh ketekunan dan kerja keras orang dalam menggali data dan mempersiapkan argumentasi untuk membangun dakwaan. Sungguh menakjubkan! Saya belajar dari semua ini. Saya merasa pengalaman ini telah menjadikan saya orang yang lebih bijak. – Zak Yacoob, Ketua Majelis Hakim IPT 1965

Cinta membuat mereka kuat. Kecintaan kepada keluarga membuat mereka yakin pilihan untuk bersaksi di balik tirai tidak saja mengembalikan harkat martabat keluarga tapi juga memberi rasa aman dan kepercayaan.

Sri Lestari Wahyuningroem, relawan

 
 

Peluncuran Buku Mars Noersmono – Bertahan Hidup di Pulau Buru

BertahanHidup2-345x500

Menunggu di Pulau Buru – terakota.id

Satu hal yang begitu menginspirasi dari Mars Noersmono adalah bahwa laki-laki ini telah selesai dengan masa lalunya. Tak ada dendam kesumat yang meluap-luap dalam dirinya. Buku itupun ia tulis bukan karena dendam pada Orde Baru. Noersmono menulis buku karena hobi membuat sketsa, sesederhana itu. Noersmono adalah manusia ikhlas dalam pengertiannya yang otentik.

Kata dan Sketsa Tahanan Politik Pulau Buru – terakota.id

“Seseorang masuk sebagai Tapol ini variatif. Ceritanya macam-macam, ada yang sedikit enak, ada yang tidak enak, ada yang tahu-tahu dipotong batang lehernya. Itu semua terjadi karena tidak ada dasar hukum yang seragam. Tidak ada landasan hukum yang sama.”

 

Peluncuran Buku Martin Aleida – Tanah Air Yang Hilang

20525831_466107630430886_1393366116078256166_n

Orang-orang Indonesia yang Kehilangan Tanah Airnya – historia.id

Kemerdekaan bagi para eksil yang dicabut paspornya oleh rezim Orde Baru adalah pulang ke Indonesia.

 

Peluncuran Buku Max Lane – Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia

20431301_10211958729297522_8463077367386746624_n

Menulis Mencipta Indonesia – historia.id

Tanpa menulis dan menyebarluaskannya, perlawanan tidak ada gunanya, tidak diketahui dunia

Membaca Indonesia dari Kacamata Seorang Pram – liputan 6

Max Lane: Setelah Indonesia Merdeka, Mau Apa? – suara.com

 

Peluncuran buku Kapitsa MS dan Maletin NP Soekarno Biografi Politik

 

soekarno_3-345x500

 

NAMA besar Bung Karno mempunyai daya tarik luar biasa tidak hanya di tanah air, namun juga di kalangan masyarakat internasional. Sejarah kehidupan beliau yang merupakan cerminan lika‐liku perjuangan panjang rakyat Indonesia di bawah pimpinannya untuk merebut kemerdekaan dan mendirikan NKRI yang berdasarkan Pancasila, untuk membentuk sebuah masyarakat adil makmur, yang sampai sekarang masih tetap jauh dari tujuan, selalu menjadi pemikat untuk tetap mengikuti setiap tulisan mengenai Bung Karno. Orang masih saja ingin lebih tahu, apakah yang sebenarnya dicita‐citakan oleh beliau yang terkandung dalam seluruh ajaran‐ajarannya yang dikenal sebagai Marhaenisme itu, dan kenapa cita‐cita mulia yang benar‐benar diabdikan kepada bangsa yang besar ini menemui kegagalan yang menyedihkan. Tidak kebetulan, karya semacam ini muncul hampir di seluruh penjuru dunia di barat, timur, utara, dan selatan. Hampir di seluruh negeri yang mempunyai institut penelitian orientalistik pasti pernah menerbitkan buku‐buku kajian mengenai Bung Karno. Salah satu contohnya adalah karya penulis‐penulis Soviet, Prof.Dr. Kapitsa dan Dr. Maletin: Soekarno: Biografi Politik, yang terjemahannya kami sajikan ini.

 

DHKOSF9UQAAR-h-

 

Buku Menuju Lentera Merah

Menuju Lentera Merah : Gerakan Propagandis Komunis Di Serambi Mekah 1923-1949 (buku terbitan 2017) – Fikrul Hanif Sufyan 

http://gmup.ugm.ac.id/id/product/sosial-politik/menuju-lentera-merah

 

menuju-lentera-merah_depan

sinopsis 
Pada awal abad ke-20, Kota Padang Panjang yang dikenal sebagai Serambi Mekah karena keislamannya, justru berkembang menjadi lumbung pertumbuhan komunis terpesat di Sumatera. Adalah seorang guru agama Sumatera Thawalib (sekolah kaum modernis Islam yang terkenal di kota itu), Haji Datuk Batuah, yang mencoba memadukan Marxisme dan Islamisme, serta nilai-nilai adat Minangkabau. Ia menyebut hasil ramuannya itu sebagai Kuminih. Dampaknya cukup mencengangkan: bersama Natar Zainuddin ia mampu menarik hampir seluruh murid Thawalib memeluk ‘merah’, jumlah anggota komunis melonjak di kota itu, dan dengan begitu aksi protes melalui surat kabar cepat merebak.

Namun, belum sempat gerakan itu membesar, pemerintah kolonial meringkus Haji Datuk Batuah cs. Mereka dibuang ke Nusa Tenggara Timur dan dijebloskan ke rimba-raya Digoel yang penuh malaria, hingga dieksternir ke Australia. Sumber kolonial menyebut propagandis komunis itu merencanakan pembunuhan, coupt kekuasaan, dan penyebar kebencian. Namun, jika sumber-sumber lokal ditilik, narasinya akan jadi lain. Bagaimana kelompok propagandis komunis melawan arus kapitalisme dan imperialisme? Bagaimana kisah penangkapan dan perasaian mereka dalam pembuangan? Karya ini memberi gambaran yang lebih memadai dari sudut pandang sumber-sumber lokal yang selama ini cenderung diabaikan oleh sebagian peneliti. Hasil temuannya sungguh mencengangkan!

 

Buku Laporan Akhir Pengadilan Rakyat Internasional 1965, Dari Beranda Tribunal, Soekarno Biografi Politik dan Bertahan di Pulau diterbitkan oleh Ultimus (dua yang pertama bersama IPT 65)

 Peringatan Aksi Kamisan 500 : 501, 502, 503

 

selain di Jakarta peringatan ini berlangsung juga di Bandung, Semarang, Yogya, Malang, Surabaya, Samarinda dll

DFov_sbWsAMRLRxDGSWWBkUwAAi2hhDG2UvNnU0AEtDbj

DGNh3AWV0AAV72H

 

Aksi Kamisan Ke-500, Masih Menagih Janji Jokowi – kompas

Aksi Kamisan ke 500 – berita satu

Aksi Kamisan ke-501, Tuntut Presiden Jokowi Buktikan Cuitannya – tempo

Aksi Kamisan ke-501 – tirto

Aksi Kamisan ke-502, Ingatkan Kasus Pelanggaran HAM – liputan 6

Aksi Kamisan ke-502, JSKK Kembali Desak Penyelesaian Kasus HAM

DGmXOVBVYAIi9Ax

 

 

Simak 120 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s