Memori-Memori Terlarang dan Kekerasan Yang Masih Dirahasiakan (Situs Genosida ’65 Nusa Tenggara Timur)

Memori-Memori Terlarang

 

Memori-Memori Terlarang, Perempuan Korban & Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur

Editor : Mery Kolimon & Liliya Wetangterah

Penerbit : Yayasan Bonet Pinggupir

Buku ini disusun oleh Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) bekerjasama dengan Fakultas Teologi Universitas Kristen ARTHA WACANA, ICTIJ dan Kerk in Actie ini terdiri dari 8 Bab, yakni Memori-memori terlarang: Perempuan Korban dan Penyintas Tragedi ’65 di NTT, SUMBA: * Korban Tragedi 1965 sebagai Orang Berdosa? (Sumba Barat), SABU: Penghancuran Perempuan Guru Sabu-Raijua oleh Negara, KOTA KUPANG :Peristiwa 1965 dan Aktivis Perempuan di Kota Kupang, KUPANG TIMUR : Ada Jurang di anatara Kita: Kekerabatan, dan Peran Pastoral Gereja di Kupang Timur, TIMOR TENGAH SELATAN:Peristiwa 1965 dan Pergumulan Identitas Perempuan TTS, ALOR : Janda Melawan Ketidakadilan di Alor dan EPILOG: Mulai Dengan Korban: Makna Tragedi ’65 untuk Teologi.

 

 

klik Situs-Situs Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur – Hasil Penelitian JPIT (21 foto berseri)

 

Launching Buku Memori-Memori Terlarang, Perempuan Korban & Penyintas Tragedi ’65 di Nusa Tenggara Timur

 

Reviews: Flipping the national story of 1965 – Gerry van Klinken

(beberapa buku dan film diantaranya buku Memori-memori Terlarang)

 

“Kami melakukan penelitian di Nusa Tenggara Timur di enam wilayah tahun 2011. Dari enam wilayah itu, Sumba Sabu Raijua, Kupang, Kupang Timur, Timor Tengah Selatan dan Pulau Alor.”

Di sana, ia mencatat ada 861 pembunuhan yang mayoritas laki-laki.

“Kami menemukan dari penelitian itu korban yang dibunuh di tiga pulau, di pulau satu 34 orang laki-laki dibunuh dengan ditembak tanggal 29 dan 30 Maret 1966. Sumba Barat dan Timur 40 orang laki-laki dibunuh. Alor 49 laki-laki dibunuh dengan ditembak. Di Kupang Timur 38 laki-laki dibunuh dengan ditembak. Di Timor Tengah Selatan 700 laki-laki dibunuh dengan ditembak periode 1966.”

“Dari temuan kami penelitian menunjukkan bahwa yang memberi komando aparat TNI dan polisi sekaligus mereka regu penembak para korban.”

kesaksian Ngesti di IPT 1965 Den Haag
selengkapnya IPT 1965, Ngesti: Pembunuhan Massal di NTT Dikomandoi TNI

 

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

Menulis untuk Penyembuhan Bangsa – Pdt. Dr. Mery Kolimon

PARA PELAKU MENCARI PENYEMBUHAN : Berteologi Dengan Narasi Para Pelaku Tragedi ’65 di Timor Barat – Pdt. Dr. Mery Kolimon

Ironi Jenderal Soeharto-Sejarah Hitam di Nusa Tenggara Timur

PELAKU LAPANGAN DALAM SEJARAH TRAGEDI ‘65 di GMIT

“Suatu Tinjauan Kontekstual Mengenai Pelaku Lapangan dalam Sejarah Tragedi ‘65 Di GMIT Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini”.

Ketakutan 1965 Sebagai Ketakutan Masa Kini: Menelaah Ketakutan Sekuler, Agama dan Supranatural. Justin L Wejak

ooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

 

nvy1

Nusa Tenggara Timur : Kekerasan Yang Masih Dirahasiakan Bab 6 hal 113-141 di dalam buku Bertahan dalam Impunitas – Asia Justice and Rights

Dengar Kesaksian Kupang, NTT: “Tragedi 1965”

Dengar Kesaksian Kupang, NTT: “Guru Anggota Gerwani”

Dengar Kesaksian Kupang, NTT: “Tuhan yang Menuntun”

Dengar Kesaksian Kupang, NTT: “Dicap Buruk: ‘Pendeta Anak PKI'”

 

The PKI in West Timor and Nusa Tenggara Timur 1965 and beyond – STEVEN FARRAM

unduh ebook Making of middle Indonesia: middle classes in Kupang Town, 1930s-1980s – Gerry van Klinken

Bab 10 A Killing Town (1965–1967) hal 229 -254 

 

Algojo 1965 Ini Bunuh 39 Orang, 2 Anggota Keluarga Kabupaten Sikka

 

Senandung Bisu 1965 – Ahmad Yunus (Flores)

 

Tragedi 1965 di Ruteng: Dari Tuduhan PKI, Hingga Eksekusi Massal di Puni

 

Menelusuri Jejak Kuburan Massal di Pasar Puni (Manggarai) -Asrida Elisabeth

View story at Medium.com

Film “Tida Lupa” dan Jejak Tragedi 1965 di Rekas

 

BeraniBerhentiBerbohong-204x300

Memori Kolektif, Perspektif Korban dan Marwah Peradaban – Elvan De Porres

Tinjauan Buku Berani Berhenti Berbohong: 50 Tahun Pascaperistiwa 1965-1966

 

Rumah Belajar Merbaun di Kota Kupang

Tahun 1965 adalah masa kelam bagi Bangsa Indonesia. Akibat pecahnya Peristiwa Gerakan 30 S, sentimen anti komunisme merebak dan menjadi teror yang mengerikan bagi masyarakat. Kala itu, mereka yang dituduh anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) diserang dan dibunuh tanpa pandang bulu, tanpa menjalani proses pembuktian di pengadilan. Ratusan ribu nyawa melayang di seluruh penjuru Tanah Air.

Salah satu wilayah di Indonesia yang menjadi saksi tragedi berdarah itu adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ratusan orang ditahan dan disiksa. Dari hasil penelitian sementara Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) di enam wilayah di NTT, tercatat setidaknya 517 orang tewas dieksekusi. Angka ini diperkirakan belum merepresentasikan jumlah korban tewas yang sesungguhnya.

Mereka yang lolos dari kematian, tak lantas hidup dalam kenikmatan. Para korban Tragedi 1965 yang selamat harus kehilangan anggota keluarga dan mendapat stigma serta diskriminasi dari masyarakat. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang mengalami trauma yang mendalam sehingga lebih memilih menutup diri dan melupakan kejadian mengerikan itu.

Untuk membantu para korban menghapus trauma masa lalu, atas dukungan #TifaFoundation, Asia Justice and Rights – AJAR mendirikan Rumah Belajar, sebuah ruang yang digunakan oleh kelompok korban untuk membangun dialog dengan masyarakat di sekitar mereka. Rumah Belajar didirikan karena AJAR melihat bahwa sebenarnya kelompok korban merupakan aktor kunci dalam mewujudkan keadilan. Para korban juga merupakan garda terdepan untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai tragedi tahun 1965.

Di Rumah Belajar, kelompok korban berkesempatan meningkatkan kapasitas mereka dalam mengidentifikasi persoalan dan kebutuhan mereka, mendialogkannya dengan masyarakat sekitar untuk mencari solusi penanganannya, dan menyampaikannya kepada pemerintah setempat. Ruang pembelajaran ini juga diharapkan akan menarik anak muda untuk ikut belajar tentang sejarah dan memahami akar kekerasan sehingga mereka nantinya dapat terlibat mencegah berulangnya kekerasan di lingkungan mereka.

Salah satu Rumah Belajar yang berada di wilayah NTT adalah Rumah Belajar Merbaun di Kota Kupang. Apa saja yang dilakukan Rumah Belajar Merbaun untuk membantu para korban Tragedi 1965 di NTT? Yuk simak infografis berikut dan#BacaKembali kisah-kisah pelanggaran HAM masa lalu dan tuturan dari berbagai pihak (disalin dari facebook Tifa)

 

19113636_1332737306776270_466456422227448079_n

 

 

Simak 120 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s