Jejak Karya Seniman LEKRA Bachtiar Siagian Yang Dilenyapkan : Dari Drama Batu Merah Lembah Merapi, Film Tunrang hingga Violetta 

Bachtiar Siagian Dan Misteri Realisme Sosialis Dalam Film Indonesia

bachtiar-siagian-basuki-resobowo-rapat-dewan-juri-ffaa-iii-mabes-ganefo-1964

Bachtiar Siagian dan Basuki Resobowo dalam rapat Dewan Juri Festival Film Asia Afrika 1964 di gedung Ganefo. Foto: Koleksi Oey Hay Djoen/ISSI

 

Hampir semua film karya sutradara-sutradara yang dicap punya hubungan dengan PKI dimusnahkan. Kini hanya tersisa satu film yang masih bisa ditonton.
 
Kemampuannya dianggap setara dengan Usmar Ismail, bapak film Indonesia. Tapi karya-karya Bachtiar Siagian hilang dimusnahkan.

 

Penyutradaraan Secara Kolektif Dimulai oleh Bachtiar Siagian – A.M. Chandra.

Dimuat dalam surat kabar Bintang Timur, 12 Juni 1960.

 

Bachtiar Siagian Dalam Film Indonesia: Sutradara Terkemuka yang Dilupakan

Ringkasan Manuskrip Memoar Bachtiar Siagian (1923-2002)

 

Death of a film legacy: remembering Indonesia’s Bachtiar Siagian – Krishna Sen


Bachtiar Siagian (alm), Film Harus Diabdikan bagi Bangsa – Mohammad Wildan

 

[Jejak] Bachtiar Siagian Sineas Penghuni Pulau Buru

 

Bachtiar Siagian: Pelopor Film Neorealis di Indonesia – Kristian Ginting

 

Menonton Film Terakhir Lekra di Dunia – Andreas Dewantara

 

Membedah Violetta, Satu-satunya Film Bachtiar Siagian yang Tersisa

Violetta (1962) – Restoration Demo

 
Segi Kedaerahan dalam Filem Cerita – SM Ardan

Dimuat dalam Aneka No 10 Tahun IX, 1 Juni 1958

*kajian film Turang karya Bachtiar Siagian

 turang

Poster Film “Turang”

(sumber posterjadoel.blogspot.coml”)

 

 

OH TURANG

Oh Turang Turangku turang

Ijadah deleng erdilo

Megersing Pagena mejile

Ijadah me kap sapo terulang

Kutimai kam Turangku turang

Oh Turang turangku turang

Ijadah me kap kam kutimai

Cirem nari ukurku o turang

Seh ulina o turangku turang

Reff

Kubayu tanda mata mejile

Man inget ingetenta duana

Oh turang turangku turang

Begiken sorangku o turang

Oh turang tedeh kal ateku

Ijadah me kap kam kutimai

Aloi aku turangku turang

Lagu ciptaan Sersan Mayor Hasyim Ngalimun ini menjadi soundtrack film dengan penyanyi Tuti Daulai (disalin dari artikel dibawah)

 

Ini adalah lagu yang dimaksud dinyanyikan oleh Bastanta P Sembiring

 

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 1 – Karo Siadi

Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960) bagian 2 – Karo Siadi

 

 

(sejarah) Film Indonesia Minus Kiri – Muhidin M Dahlan

Boikot Film – Hendri F. Isnaeni

Gambar Idoep yang Menghidupkan Nusantara


Rethinking Third Cinema

Simak bab 6 What’s “oppositional” in Indonesian cinema? – KRISHNA SEN

 

113 payung hitam aksi kamisan andreas iswinarto

DRAMA

 

(Aneka, 1956) Resensi Amrin Thaib atas pertunjukan “Lorong Belakang” oleh GERAAB *penulis drama ini adalah Bachtiar Siagian


(Aneka, 1960) Tiga Drama Satu malam oleh Lekra Solo

*diantaranya dipentaskan karya Bachtiar Siagian Batu Merah Lembah Merapi

 

(Aneka, 1960) IPPI Pentaskan “Buih dan kasih” Bachtiar Siagian

 

 

PUISI-PUISI BACHTIAR SIAGIAN DARI PENJARA ORBA

disalin dari http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com

dikirim JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris kala Musim Dingin 2008

 

Menjelang pergi ke Indonesia akhir tahun 2007 lalu, saat membongkar berkas-berkas lama, tiba-tiba aku mendapatkan sebundel berkas diketik di atas kertas warna merang. Kertas-kertasnya pun sudah sangat gampang sobek jika kita membukanya tidak dengan hati-hati. Aku sendiri sudah lupa, darimana aku mendapatkan kumpulan puisi dan renungan ini. Satu-satunya yang masih kuingat bahwa pada masa “kuat-kuat”nya Orde Baru Soeharto, aku memang banyak sekali mendapat kiriman naskah-naskah yang ditulis dari pulau pembuangan dan penjara di Indonesia . Termasuk naskah ini. Sebagian kecil dari naskah-naskah itu sudah kusiarkan bersama teman-teman dalam bentuk sangat sederhana. Sebagian terbesar , aku jadi sangat menyesal sendiri, tidak terawat dan entah di mana sekarang. Sebagian kecil yang sudah kami siarkan adalah tulisan Hersri Setiawan ,”Di Sela-sela Intaian” dan  “Pledoi Kolonel Latief” [sekarang sudah diterbitkan di Indonesia].

Karya-karya yang ditulis langsung dari pulau pembuangan dan penjara, selain merupakan saksi sejarah yang hidup, kukira karya-karya demikian memperlihatkan pergulatan seorang anak manusia menarung maut dan menolak kalah. Setia pada martabat kemanusiaan dan mimpinya. Bahwa menjadi manusia bermartabat dan berharga diri bukanlah sesuatu yang sederhana. Mimpi dan cinta itu pun seharga kepala. Menagih kesanggupan memilih.

Dengan penilaian begini, maka aku merasa sangat gembira telah mendapatkan kembali kumpulan tulisan berjudul “Catatan Kemarau” [CK] dan “Mencari Dalam Sepi” [MDS], karya Bachtiar Siagian, salah seorang pekerja filem terkemuka dari Lembaga Filem Indonesia Lekra. Dari tangannya antara lain telah lahir filem “Turang”, drama “Batu Merah Lembah Merapi”…

CK dan MDS menghimpun karya-karya Bachtiar Siagian antara tahun 1967 hingga tahun 1975 bertandakan Salemba dan Nusakambangan [NK]. Melalui “Kronik dan Dokumentasi Wida” ini, aku akan siarkan karya-karya Bachtiar Siagian tersebut, sebagai penghormatanku kepada beliau, sekaligus sebagai bentuk usahaku mencari keluarganya dan menyerahkan karya-karya Bachtiar Siagian ini kepada mereka yang berhak memilikinya. Sampai aku menggoreskan kalimat-kalimat ini, aku masih kehilangan jejak Bachtiar. Aku sama sekali tidak tahu, beliau di mana. Apakah masih hidup atau sudah tiada. Kalau meninggal di mana makamnya? Aku tidak ingin karya-karya ini hilang seperti halnya dengan banyak karya orang lain, ketika berada ditanganku — seorang penghuni “kemah” perjalanan. Mencegah hal buruk begini, maka paling tidak memasukkannya ke dalam dokumentasi, maka tulisan-tulisan Bachtiar Siagian yang ia gores di saat menarung ajal memenangi hidup, sedikit demi sedikit akan kusiarkan selengkapnya.

 

Bisakah penyiaran karya-karya ini dipandang sebagai salah satu bentuk tanggungjawab, saling hormat dan solidaritas bersastra? Entahlah. Yang kukehendaki agar kita bisa bebas dari subyektivisme, seperti yang dikatakan oleh Chairil Anwar dalam puisinya “Catetan TH. 46” : “keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat”.

 

Adanya karya-karya seperti karya Bachtiar ini, karya yang tidak mendapat peluang terbit pada masa Orde Baru, barangkali menunjukkan bahwa pada periode itu selain ada sastra yang muncul, ada pula sastra yang tidak muncul. “Underground literary” jika boleh meminjam istilah Supriadi Tomodihardjo dari Köln, Jerman.

 

 

Beberapa diantaranya

 

[Tanpa judul]

Sekelumitpun Kasih

menyala di dada

Ia mampu

menantang derita

Salemba 1967

 

 

PERNYATAAN

 

I

Aku adalah aku

Dan Kau adalahg kau

Tetapi di dirimu ada aku

Dab di diriku ada Kau

Kita — kau dan aku — adalah pernyataan

Tentang keburukan dan kebaikan

Tentang kekuatan dan kelemahan

Tentang keterbatasan dan ke-tak-terbatasan

Tentang tahu dan tak tahu

Tentang ada dan tak ada

Tentang keganjilan dan kegenapan

Tentang kemuliaan dan kehinaan

Aku adalah aku

Yang senantiasa memerlukanmu

Dan Kau adalah Kau

Yang selalu memerlukanku

Kita ini awal dan akhir

Awal dari ketiadaan

dan akhir dari keberadaan

Kita penerima dan pengambil keputusan

Kita saling membenci dan mengasihi

Kita mengasihi karena saling memerlukan

Kita membenci karena saling berebutan

Kita menjadi sombong dan takabur

Di hadapan Sesuatu yang tak terukur

Kita ini sombong dalam kedunguan

Dan takabur dalam kelumpuhan

Kau adalah aku

Dan aku adalah Kau

 

II

Kita banggakan senyum dusta

dan pernyataan hampa

Kemuliaan; itulah aku

Keperkasaan; itulah aku

Ke-tak-terbatasan: itulah aku

dan ketika membanggakankedunguan itu

Kau hirup udara yang pernah kuhirup

Kuteguk air yang pernah kau minum

Di bumi yang tunggal ini

Yang bukan milik kita

tetapi memberikan segalanya

Pernahkah kau pertanyakan dirimu

Di hadapan hatimu sendiri

Siapakah aku?

Pernahkah kau pertanyakan

Siapa gerangan kita, kau dan aku

Di hamparan bumi yang bukan milik kita

Tetapi memberikan segalanya?

Kau adalah aku

Aku adalah kau

Kita adalah kau dan aku

Yang bukan hanya milik kita

 

III

Suatu saat kita terdampar

Di persimpangan tak bertanda

Kau paksa aku ke sana

Kudesak kau ke sini

Kita jadi serakah

pada keakuan sendiri

Kita terlupa

bahwa kau adalah aku

dan aku adalah kau

kita gila dalam keserakahan

di ladang yang bukan kita punya

lalu tenggelam kehilangan arti

dalam kilau impian sendiri

***

 

Riuh Di Keheningan

 

I.

Aku ini anak perbatasan

Dari dua dunia berpapawan

Antara kasih dan kebencian

Antara kekosongan dan kberadaan

Kupikul segenap beban pertanyaan

Yang menyerpih dari balik pengalaman

Apabila nanti terhempas ke tepi

Aku menari-cari di hati sendiri

 

II.

Di hamparan kelam

Sepi bergumam

Hati dipagut

Rindu yang kalut

Lalu terasa nyeri

Berhari-hari

Gemerlap di kelam ini

membekas sekilas lintas

Dan hanguslah mimpi

Di beku kawat berduri

 

III.

Baju yang terus koyak

Kutampali lagi

Tak henti-henti

Betapa gerangan menampali

Hati yang robek

Dan pikiran yang koyak?

 

IV.

Ketika harapan berpapasan

Dengan segala yang tak terpegang

Terasalah semua

Yang disebut hampa

Tetapi hidup bukan kehampaan

Yang terasa di kejatuhan

Ia madu

Bagi yang mampu

Dan bencana

Bagi yang buta

 

V.

Jika kedunguan dan keserakahan

Membebani hari nurani

Pasir pun dianggap permata

Dan kejujuran tak berharga

 

VI.

Di larut sendja ini

Berebutan segala tanya

Satu yang paling terasa

Kedunguan sendiri

 

VII.

Segala yang menjulang ke puncak

Sekali kan jatuh ke bumi

Dan pulanglah segalanya

Ke batas semula

 

YANG TERSISA

 

Sekali aku tiba di persimpangan

yang ada hanya diri sendiri

Matahari membekas di kering rumput

dan daun membusuk dibelaian embun

Di kejauhan tak berjarak ini

yang terasa hanya kehampaan

desah hati yang luluh

pada segala yang runtuh

Yang kini masih tersisa

Adalah tawa berbalut tanya

tentang makna segala cita

di hati manusia

Permisan, Mei 1974.

 

 

BIARLAH

 

Mungkinkah hidup ini

sejumlah pertanyaan

yang tercecer di perjalanan

dan pada suatu persimpangan

kita menunggu jawaban

Ah, persetan

biarlah berlalu

pertanyaan yang dulu

 

Permisan, Mei 1974.

 

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s