Tragedi Menteri Luar Negeri Indonesia* dr. Soebandrio [Indonesian minister caught in a cold-war clash**]

*dipetik dari judul artikel Asvi Warman Adam di Jawa Pos (link terlampir)
**dipetik dari sub judul artikel Andrew Roth –the Guardian (link terlampir)

 

“Soebandrio memegang tiga jabatan penting sekaligus pada tahun 1965, yaitu Waperdam I, Menteri Luar Negeri, dan Kepala BPI (Biro Pusat Intelijen) pada tahun 1965. Kesaksiannya sangat penting, karena ia termasuk pelaku sejarah yang menyaksikan peristiwa 1965 itu pada lingkaran RI 1 dan masih hidup sampai sekarang (berusia 86 tahun). Ada beberapa data sejarah yang disampaikannya yang kurang akurat (sebetulnya tugas penyunting untuk mengeceknya) namun secara keseluruhan ini memberi data baru tentang keterlibatan Soeharto dalam kudeta merangkak 1965-1966 

Ia menganalisis keterlibatan Soeharto ini melalui dua kategori (bekas) anak buahnya di Kodam Diponegoro. Pertama, Letkol Untung dan Latief yang akan menghadapkan Dewan Jenderal kepada Presiden Soekarno (dan ini sepengetahuan Soeharto). Kedua, Yoga Sugama dan Ali Moertopo, yang dulunya berjasa (melakukan manuver dan operasi intelijen) untuk menjadikan Soeharto sebagai Panglima Kodam Diponegoro. Yoga Sugama ditarik oleh Soeharto ke Jakarta untuk menjadi Kepala Intel Kostrad pada Januari 1965 ketika sedang bertugas di Yugoslavia.

Soebandrio meragukan Soeharto pulang ke rumahnya setelah membesuk anaknya Tommy di Rumah Sakit Gatot Subroto tanggal 30 September malam. Rasanya mustahil, esok paginya, Soeharto dibangunkan oleh tetangga yang memberi tahu tentang penculikan beberapa Jenderal. Pak Ban mempunyai dugaan kuat bahwa Soeharto justru bermalam di markas Kostrad memonitor perkembangan peristiwa, menganalisis situasi, dan mempersiapkan langkah yang akan diambil.

Yang terjadi kemudian pada 1 Oktober 1965 sudah sama-sama diketahui umum. Yang menarik adalah trio pertama (Soeharto-Untung-Latief) adalah trio untuk dikorbankan, sedangkan yang dipakai selanjutnya adalah trio kedua (Soeharto-Yoga Sugama-Ali Moertopo). Letkol Untung sampai akhir hayat tidak merasa yakin bahwa ia akan dieksekusi seperti dituturkannya kepada Soebandrio di penjara Cimahi. Ia merasa Soeharto adalah bekas atasannya dan yang dianggap sebagai kawan dalam peristiwa G-30-S. Latief juga bekas bawahan Soeharto yang merasa dikhianati seperti terungkap dalam buku pledoi dan memoarnya. Mengenai tanggal 11 Maret 1966, Soebandrio juga mengungkapkan keganjilan tingkah Soeharto yang tidak hadir dalam rapat kabinet hari itu dengan alasan sakit. Padahal, sore harinya ia memimpin rapat di markas Kostrad. Menurut Soebandrio, jika Soeharto hadir pada sidang kabinet itu, ia akan menghadapi kesulitan karena waktu itu di depan Istana ada demonstrasi mahasiswa dan berkeliarannya pasukan yang tidak dikenal (kemudian itu diketahui sebagai pasukan yang dipimpin oleh Kemal Idris). Tentu Presiden Soekarno akan menyuruhnya menghadapi mahasiswa dan tentara yang justru digerakkannya untuk mengancam Soekarno.

Pada tanggal 11 Maret 1966 itu juga tiga orang jenderal setelah berapat di rumah Soeharto di Jalan H. Agus Salim menemui Soekarno. Dalam kesaksian Soebandrio digambarkan unsur tekanan yang diberikan ketiga Jenderal itu kepada Presiden Soekarno.

Soebandrio menyimpulkan rangkaian peristiwa dari 1 Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 sebagai kudeta merangkak yang dilakukan melalui empat tahap. Tahap pertama, menyingkirkan saingannya di Angkatan Darat seperti Yani dll. Tahap kedua, membubarkan PKI yang merupakan rival terberat tentara sampai saat itu. Tahap ketiga, melemahkan kekuatan pendukung Bung Karno dengan menangkap 15 Menteri yang Soekarnois, termasuk Soebandrio. Tahap keempat, mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno”

 

dipetik dari Asvi Warman Adam dalam artikelnya Didepan Mahkamah Sejarah – 

 

 

“Keluarnya buku Dr Subandrio _Kesaksianku tentang G-30-S_ dan permintaan rehabilitasi nama baiknya adalah dua hal penting yang  bisa membangkitkan dialog atau tukar-pendapat yang hangat di berbagai  kalangan. Perdebatan atau penelitian tentang masalah-masalah peristiwa 1965 dan tentang lahirnya Orde Baru adalah hal yang positif, asal dilakukan

dengan tujuan tulus untuk mencari kebenaran dari fakta, dan dengan arah untuk menarik pelajaran demi kepentingan kerukunan bangsa dewasa ini, dan di kemudian hari. Kebenaran sejarah harus ditegakkan, dan menutup-nutupinya adalah dosa yang besar!

Dipetik dari artikel A. Umar Said “Arti Rehabilitasi dr. Soebandrio dan Naskah Bukunya“

 

unduh buku

Kesaksianku tentang G30S – Dr. H. Soebandrio 


Subandrio: “Saya Telah Menjadi Korban”

Wawancara Soebandrio dengan Setiyardi dari Majalah Tempo

 

 

 

Rehabilitasi Soebandrio – Asvi Warman Adam

 

Tragedi Menteri Luar Negeri Indonesia – Asvi Warman Adam

 

Why Indonesia’s President Should Rehabilitate the Late Subandrio – Asvi Warman Adam

 

Asvi Warman Adam: “Rehabilitasi Nama Baik dr. Soebandrio

Asvi Warman Adam: “Telegram Haji Peking”

Tuntutan hukuman mati terhadap dr. Soebandrio sangat tidak rasional. Alasan terhadap hal ini dapat dibuktikan melalui telegram yang ditulisnya kepada D.N. Aidit dan Njoto.

 

 

 

Dr Subandrio – Indonesian minister caught in a cold-war clash

Andrew Roth -the Guardian


Subandrio, 89, Indonesian Independence Advocate Jailed for 30 Years, Dies – WOLFGANG SAXON – The New York Time

 

Kisah Buruk Soeharto Di Mata Soebandrio – Rudi Hartono

 

Pengakuan Soeharto VS Soebandrio Dalam G 30 S – Hasan Kurniawan

 

 

 

Arsip Koran Lama :

Arsip Sinar Harapan : Terpaksa RI Jalankan Politik Konfrontasi Terhadap Malaya

Jakarta, 21 Desember 1963

Jpeg

http://sinarharapan.net/2016/03/terpaksa-ri-jalankan-politik-konfrontasi-terhadap-malaya/

Arsip Sinar HarapanOlahraga & Politik Dewasa Ini Satu Sama Lain Tak Dapat Dipisahkan

JAKARTA, 12 Januari 1963

olehraga-dan-politik-494x600

http://sinarharapan.net/2016/03/olahraga-politik-dewasa-ini-satu-sama-lain-tak-dapat-dipisahkan/

 

 

Rehabilitasi 15 Menteri Soekarno – Asvi Warman Adam (Kompas 23 Agustus 2016)

 

Dalam keputusan International People’s Tribunal 1965 yang disampaikan 20 Juli 2016 disebutkan, korban peristiwa 1965 bukan saja mereka yang dituduh anggota PKI dan ormasnya atau tidak sama sekali, melainkan juga kalangan PNI progresif dan para pendukung Soekarno.

 

Tentu termasuk dalam pendukung Soekarno 15 menteri yang ditahan tanggal 18 Maret 1966. Mereka adalah Soebandrio, Chaerul Saleh, Setiadi Reksoprodjo, Sumardjo, Oei Tjoe Tat, Jusuf Muda Dalam, Armunanto, Surahman, Sutomo Martopradoto, Astrawinata, Achmadi, Imam Syafi’i, JK Tumakaka, Mohamad Achadi, dan Soemarno Sastroatmodjo.


selengkapnya

http://doa-bagirajatega.blogspot.co.id/2016/08/rehabilitasi-15-menteri-soekarno-asvi.html

 

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s