Eks Tapol 1965 : Dari OEY HAY DJOEN, SIAUW GIOK TJAN, TAN SWIE LING hingga OEI HIEM HWIE

OEY HAY DJOEN

 Di Pulau Buru ia ditempatkan di Unit III yang dikenal sebagai unit die hard bersama Pramoedya Ananta Toer dan Rivai Apin. Sikap kerasnya menyambung perlawanan kaum naturalisten yang tidak mau bekerjasama dengan penguasa kolonial di Boven Digoel 40 tahun sebelumnya. Ia tetap membaca dan berkarya, antara lain menerjemahkan karya klasik Plato, Republic, dari edisi buku saku berbahasa Inggris dan panduan akupunktur yang disusun Felix Mann, pendiri dan ketua pertama Medical Acupuncture Society. Tapi kerja intelektual ini berimbang dengan kerja fisik. Hersri Setiawan, yang juga ditahan di Pulau Buru, dalam pidato untuk menghormati Oey bercerita bahwa Oey yang tidak punya latar belakang petani pernah memenangkan lomba menanam benih di sawah yang baru digarap. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, Hasjim Rachman dan Karel Supit. Penguasa militer terus terang bilang bahwa mereka adalah rombongan die hard yang harus dipisahkan dari tahanan lain.

 dipetik dari Mengenang Oey Hay Djoen (1929-2008) – Hilmar Farid

http://hilmarfarid.org/mengenang-oey-hay-djoen-1929-2008/

 

 

Dari Lensa Oey Hay Djoen – “Geliat Republik Baru” (1950 – 1965)

http://sejarahsosial.org/DariLensaOeyHayDjoen/DariLensaOeyHayDjoen.html

 

 

Oey Hay Djoen: Cerita Soal ‘Tahanan Politik 001’

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150929175436-20-81654/oey-hay-djoen-cerita-soal-tahanan-politik-001/

OBITUARI Selamat Jalan Oey Hay Djoen – JJ. Kusni

http://indoprogress.blogspot.co.id/2008/05/in-memoriam.html

Tapol 007 – Yos Rizal Suriaji

http://oeyhaydjoen.blogspot.co.id/2008/06/tapol-007.html

Pelurusan Sejarah, Mungkinkah? – F Pascaries

http://oeyhaydjoen.blogspot.co.id/2008/06/pelurusan-sejarah-mungkinkah.html

Pak Oey dan Sumbangan Akademiknya – Ulil Abshar Abdalla

http://oeyhaydjoen.blogspot.co.id/2008/06/pak-oey-dan-sumbangan-akademiknya.html

Siapa Mau Jadi Penerjemah ?

http://oeyhaydjoen.blogspot.co.id/2008/06/siapa-mau-jadi-penerjemah.html
 

Bringing ‘Das Kapital’ to Indonesia – Evi Mariani

View story at Medium.com

View story at Medium.com

 

 

 

 

This slideshow requires JavaScript.

 beberapa buku terjemahan Oey Hay Djoen terbitan Hasta Mitra 

 

 

SIAUW GIOK TJAN

 

Sebagai seorang simpatisan kiri sekaligus pendukung Bung Karno, Siauw pun tak lepas dari ‘tsunami’ politik tersebut. 4 Nopember 1965, Siauw  ditangkap dan dibui selama 13 tahun oleh Orde Baru tanpa proses pengadilan. Baperki pun dibubarkan, begitu juga dengan universitas yang dibentuknya, Ureca.

Dipetik dari Siauw Giok Tjhan, Pejuang Bangsa Yang Dihapus Dalam Sejarah – Hiski Darmayana

http://www.berdikarionline.com/siauw-giok-tjhan-pejuang-bangsa-yang-dihapus-dalam-sejarah/

 

Siauw Giok Tjhan, menteri Soekarno yang jago kungfu & sederhana

https://www.merdeka.com/peristiwa/siauw-giok-tjhan-menteri-soekarno-yang-jago-kungfu–sederhana.html

(Ebook) Siauw Giok Tjan – Sumbangsih Siauw Giok Tjhan & Baperki

https://rowlandpasaribu.files.wordpress.com/2013/09/s-tiong-djin-oey-hay-djoen-sumbangsih-siauw-giok-tjhan-baperki.pdf

 

(Ebook) Renungan Seorang Patriot Indonesia – Siauw Giok Tjhan

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/99-renungan-seorang-patriot-indonesia-siauw-giok-tjhan

 

(Ebook) Siauw Giok Tjhan Orang Indonesia

http://gelora45.com/activity/SGT100Th_BukuKumpulanTulisan2014.pdf

G 30 S dan Kejahatan Negara

 

Penulis : Siauw Giok Tjhan

Penyunting: Siauw Tiong Djin

Kata Pengantar : John Rossa

Penerbit : Ultimus

g30s-345x500

baca PENGANTAR John Rossa untuk BUKU SIAUW GIOK TJHAN – G30S DAN KEJAHATAN NEGARA

 

 

 

TAN SWIE LING

 

p

dari Riungan dan Tegar Hati : Bekal Bertahar di Tengah Kegilaan – Aquino W Hayunta dan John Rossa dalam Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (Ed. Ayu Ratih, Hilmar Farid dkk) hal 113-124 Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (Ed. Ayu Ratih, Hilmar Farid dkk) hal 113-124. (unduh)

 

In Defiance: Voices of Torture Survivors, Tan Swie Ling

No Reconciliation without Truth An Interview with Tan Swie Ling on the 1965 Mass Killings in Indonesia

http://www.tribunal1965.org/en/no-reconciliation-without-truth-an-interview-with-tan-swie-ling-on-the-1965-mass-killings-in-indonesia/

 

 

G30S 1965, Perang Dingin Dan Kehancuran Nasionalisme

 

Penulis : Tan Swie Ling

Penerbit : Komunitas Bambu

Tahun : 2010

 

g30s-perang-dingin-dan-kehancuran-large

Buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Meskipun buku ini berangkat dari pengalaman hidup Tan Swie Ling, seorang eks tapol G30S, tetapi penulis tidak cerita sedikit pun tentang orangtua, tempat kelahiran, sekolah, aktivitas-aktivitas politiknya ketika masih muda, dsb. Riwayat hidupnya “dimulai” pada 1 Oktober 1965, ketika dia dapat berita tentang G30S. Saat dia harus mulai sembunyi dan membantu mencari tempat aman untuk Ketua PKI terakhir, Sudisman. Lantas akhir tahun 1966, keduanya ditangkap karena dikhianati Ketua Komisi Verifikasi PKI dan anggota CC, Sujono Pradigdo yang takut disiksa. Selama 13 tahun, dia dipenjara sambil disiksa secara buas dan sadis. Setelah lepas, dia–seperti eks tapol lainnya–harus mengalami segala macam penghinaan, diskriminasi, ancaman dan pemerasan. Tetapi dia tak patah hati, otaknya tidak ambruk, semangat dan disiplinnya tetap utuh. Dan inilah refleksinya atas G30S, awal dari kehancuran nasionalisme Indonesia dan Indonesia itu sendiri.

 

 

OEI HIEM HWIE

 

Nasibku masih beruntung, tak terlalu banyak dipukul. Wartawan dan mahasiswa yang dianggap kalangan intelektual, memang tidak terlalu disiksa. Yang jelas-jelas anggota PKI, siksaannya tiada ampun. Dipukul, bahkan dibunuh.

 

Aku kenal Pak Pram sejak menjadi wartawan. Ketika akhirnya kembali bertemu di Buru, aku tak langsung bertemu muka dengannya. Kami beda unit. Pak Pram di unit 3, aku di unit 4. Hubunganku dengan Pak Pram mulai dengan surat-menyurat. Kutitip pesan surat kepada tapol lain yang kebetulan akan ke unit 3.

Kami baru saling bertemu saat Pak Pram sudah dipindah ke Markas Komando (Mako) karena dinilai punya keterampilan. Tempatku kerja kebetulan dekat dengan Mako. Pak Pram bahkan pernah berkunjung ke barakku, meski sepulangnya dimarahi karena interaksi antartapol dilarang.

 

dipetik dari 38 Tahun Menjaga Kertas Semen Titipan Pramoedya

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20160430000324-241-127675/38-tahun-menjaga-kertas-semen-titipan-pramoedya/


 

Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru – SOE TJEN MARCHING

Saya bertemu Oei Hiem Hwie pertama kali tahun 2005, karena mama saya sering berkunjung ke Perpustakaan Medayu Agung di Surabaya. Perpustakaan milik Oei itu sangat luar biasa koleksinya: dari buku-buku langka berbahasa Belanda, Inggris, Mandarin, serta koran-koran tua, sampai berbagai buku dan majalah kontemporer. Oei Hiem Hwie ternyata juga membantu Pramoedya menulis naskah Bumi Manusia di pulau Buru secara sembunyi-sembunyi, dengan berbagai risiko, dan juga mengeditnya. Inilah kisah Oei Hiem Hwie, yang sempat dipenjara oleh rezim Suharto selama hampir 13 tahun.

http://islambergerak.com/2015/05/oei-hiem-hwie-editor-pramoedya-di-buru/

Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah – Kathleen Azali

Perpustakaan Medayu Agung dibentuk dari kenangan dan pengalaman pribadi sang pemilik, Oei Hiem Hwie, demi membangun sejarah yang lebih besar.

http://ayorek.org/2014/04/oei-hiem-hwie-dan-medayu-agung-merawat-kenangan-membangun-sejarah/#sthash.v8AmMoEy.WFEcrEGK.dpbs

Oei Hiem Hwie, Sukarnois yang Terbuang dan Penyelundup Naskah Pramoedya Ananta Toer

http://surabaya.tribunnews.com/2016/03/30/oei-hiem-hwie-sukarnois-yang-terbuang-dan-penyelundup-naskah-pramoedya-ananta-toer

Oei Hiem Hwie dan Medayu Agung: Merawat Kenangan, Membangun Sejarah – Eko Darmoko

Resensi Buku : Memoar Dari Pulau Buru Sampai Medayu Agung

http://ayorek.org/2014/04/oei-hiem-hwie-dan-medayu-agung-merawat-kenangan-membangun-sejarah/#sthash.v8AmMoEy.dpbs


buku

Oei Hiem Hwie – Tangan Kanan Pramoedya Ananta Toer

Feature Radio ini membahas sepenggal kisah tentang sosok Hwie yang turut membantu Pram untuk bisa menyelamatkan berbagai naskah tulisan mengaggumkan Pramoedya.

 

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s