Sanggar Bumi Tarung : Berjuta mata sebagai saksi bisu #50tahun1965 [pameran online] [genosida 1965; tragedi 1965]

Artwork on 1965 Indonesia Massacres – Artwork on 1965 Indonesia Genocide – Artwork on 1965 Indonesia Tragedy

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65

 PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/
tahan semua rasa pedih itu / dengan ketabahan / ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka (Amrus Natalsya – Sanggar Bumi Tarung)
 
*berjuta mata sebagai saksi bisu diambil dari judul lukisan Amrus Natalsya
 
sumber foto dan teks 

 

Buat sekian kali, kupajang lagi lukisan “Bumi Tarung 1965” ini kehadapan anda dan teman-teman, selaku “in-memoriam” atas kepergian Ben Anderson penemu sebutan “gulag-tropis” bagi segenap kamp-kamp tahanan peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965 yang berada di bumi Nusantara kita. Terutama yang paling presis mengena untuk sebutan yang bernuansa “neraka hunian” yang kejam itu,adalah kamp pembuangan Pulau Buru. Ada 6 orang anggota komunitas sanggar Bumi Tarung yang dibuang di pulau tandus yang meranggas itu Usia produktif berkarya senirupa di masa remajanya Isa Hasanda, Gumelar, Gultom, Sediono, Suroso dan Viktor Manurung banyak terbuang sia-sia disini ditenggelamkan cucuran keringat kerja rodi paksa yang tak kenal ampun. Selainnya, Amrus Natalsya nakhoda SBT yang saat itu satu-satunya yang sudah berkeluarga, dalam lukisan ini tampak dengan wajah geram dan getir dipaksa dalam pasungan, terenggutkan dari anak-anak dan isterinya yang tengah memelas ditinggalkan pergi untuk waktu yang tak terukur. Kawan-kawannya yang lain tentu mengikutinya secara berbondong-bondong tergiring oleh aparat bersenjata penguasa rezim Orba, memasuki liang pesakitan yang disebut Ben Anderson “gulag -tropis” tersebut. Sedangkan yang ditinggalkan mereka di luar, suasana khaos yang berantakan terobrak-abrik keganasan aparat. Karya patung Amrus terbaik “Keluarga tandus di senja kala” dibakar, piring pecah belah,buku-buku, cat-cat tube lukis, dan kanvas-kanvas berhamburan…… (Misbach Tamrin)
Karya lukisan perupa dan pendiri SBT Amrus Natalsya “Berjuta mata sebagai saksi bisu”. Sang pelukis mengungkapkan betapa dahsyat peristiwa Tragedi Nasional 1965,disamping ribuan atau mungkin jutaan ruh korban bersayap yg melayang-layang dilangit yg enggan dan tak rela dilenyapkan secara tak wajar lewat pembantaian yg diangkut ratusan truk dibumi. Namun ribuan mata yang membentuk piramid cahaya dilangit,terutama mata “malaikat” yang menyaksikan tragedi ketidakadilan ini. Kita harapkan di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang telah berjanji lewat Nawacitanya untuk menyelesaikan dan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, termasuk perkara peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 itu, dapat dilaksanakan secara konsisten……
 
 
 
“Interogasi Orde Baru”,karya perupa pendiri SBT 1961 Amrus Natalsya yg menggambarkan eskalasi pemeriksaan (interogasi) rezim Orde Baru terhadap para tapol peristiwa “Tragedi Nasional 1965″……
Seorang perupa SBT kelahiran Pancur Batu Medan yg telah wafat (1932 – 2001) Puji Tarigan tampil di pameran Ultah ke-50 SBT 2011,dengan karyanya “Tragedi Nasional 1965” (oil on canvas,110×80 cm). Selaku seorang pelukis nasrani Puji Tarigan berimajinasi secara surealis lewat karyanya,bahwa tindak pelanggaran hak azasi manusia pada peristiwa ’65 demikian tragis dan mengenaskan. Dengan adanya genocide (pembantaian) diantara bangsa sendiri,tak luput dari kesaksian Yesus yg sedang terpaku di salibnya dengan sedih. Yang juga ia sebagai korban yg sama dari penganiayaan kejahatan manusia………..
Ini lukisan perupa SBT terkenal Djoko Pekik yang berjudul “Tak seorang berniat pulang,walau mati menanti” (meminjam judul sajak penyair Lekra HR Bandaharo)…. 
Ini lukisan karya perupa SBT Misbach Tamrin yang berjudul “Perpisahan”.Melukiskan momen seorang bapak memeluk rangkul anaknya sebagai tanda perpisahan terakhir,yang status keberadaan keduanya selaku tapol 1965 bersama lainnya sedang dalam ruang tahanan,sebelum si bapak dijemput petugas aparat militer Orde Baru untuk selanjutnya dibawa dalam bak truk untuk mendapat giliran dilenyapkan buat selamanya….
Karya kukisan cat minyak (kanvas) perupa SBT Harjija Pujanadi berjudul “Ibu dan anak,yang ditinggalkan”. Melukiskan suatu adegan seorang ibu dengan anaknya ditinggalkan suaminya,karena dijemput paksa oleh aparat penguasa Orde Baru disaat setelah peristiwa G30S 1965,untuk selanjutnya diangkut dalam truk entah kemana dibawa,yang biasanya dan kebanyakan tidak pernah kembali buat selamanya….. 
lukisan perupa SBT Adrianus Gumelar berjudul “Tahanan perempuan Plantungan”,mereka hanya perempuan,ya…memang ada yg menjadi aktivis suatu partai atau ormas terlarang,tapi juga banyak yg hanya keluarga atau isteri tapol,harus meringkuk dipenjara dlm tahunan yang tak terukur………
Sebuah lukisan perupa SBT Hardjija Pudjanadi “Pekerja rodi”, pelukisan kenangan atas pengalaman peristiwa Tragedi Nasional 1965,tatkala para tapol dipekerjakan mendinamit gunung,memecah bongkah batu dg amar menjadi kepingan kecil diangkut dlm keranjang,berbaris beriringan melalui jalan setapak menuju jalan raya yg jauh,untuk dihamparkan buat pengerasan Diatasnya elang berkulik,sbg tanda isyarat ada diantara mereka yg rubuh tak tertahankan……..
Lukisan ini karya dari perupa SBT Sudiyono SP berjudul “Kerja rodi tapol di Nusakambangan”.Si pelukisnya mengangkat pengalamannya selama berada di kamp ini, sebelum ia dikirim ke Pulau Buru.Disini juga terjadi korban hari demi hari,krn kelaparan kurang gizi dan tanpa perhatian medis atas kesehatan mereka. 
Lukisan karya perupa SBT Adrianus Gumelar “Gulak tropis Pulau Buru” yg juga telah dipamerkan dalam Pameran Senirupa Ultah ke-50 SBt tahun yl di Galeri Nasional Indonesia. Dalam sejarah, kawasan Pulau Buru (Indonesia Timur) adalah bekas tempat para tapol Peristiwa Tragedi Nasional 1965 di kamp konsentrasikan. Disini, mereka diasingkan selama berpuluh tahun, sambil dimanfaatkan tenaga dan pikirannya untuk membalik tanah gersang yg tak subur itu menjadi lahan untuk mereka bertahan hidup dengan kerja keras semacam kerja rodi. Hasilnya setelah mereka dibebaskan, ternyata yg tadinya merupakan pulau yang mati (gersang) itu, telah menjadi lahan subur yg produktif dan menjadi proyek percontohan dari pembangunan daerah yang tertinggal…….
Sebagai kenangan,kami sajikan pula karya almarhum Sediono, perupa SBT asal Yogyakarta (jebolan penjara Nusakambangan dan “gulak tropis” Pulau Buru) yg telah meninggal sekitar 2 tahun y.l, dlm usia 76 th, berjudul “Digiring ke kuburan massal” (Salah satu episode tema dari banyak peristiwa Tragedi Nasional1965).
Karya perupa SBT Misbach Tamrin “Eksekusi dipinggir jurang”
 
 
 
PERJALANAN BUMI TARUNG
 
 
Bumi Tarung hadir menerabas semak belukar kekuasaan yang menggelar pragmatisme, pedangkalan dan komoditisasi kebudayaan. Ia hadir untuk mengingatkan Indonesia pernah memiliki kebudayaan yang tidak untuk dijual, tetapi untuk melindungi rakyatnya. Semboyan “Politik sebagai panglima” dibawakannya bukan untuk menabuh genderang politik tahun 60-an. Bukan untuk menjadi mercusuar gerakan rakyat demi merapatkan barisan menyingkirkan kekuatan lama menyambut bangkitnya kekuatan baru. Melainkan ia hadir mengarungi “lautan oblivia” melawan pelupaan…….
(Agung Putri Astrid,dlm pengantar buku “Tetap Bumi Tarung”).
 
 
 
Ini lukisan perupa SBT Amrus Natalsya yang berjudul “Kawan-kawanku” (1958),sebuah karya lamanya yang telah menjadi koleksi Bung Karno.
 
Lukisan ini karya perupa SBT Misbach Tamrin “Purnama diturba pantai Trisik” (Akrylic on canvas,150 x 150 cm,2011). Ternyata berbagai peristiwa krusial ditanah air kita belakangan ini, seperti di Mesuji,Bima,Sampang,Kotawaringin Barat dll itu juga telah terjadi sejak setengah abad yang lampau. Dengan metetusnya peristiwa Djengkol, Bandarbetsi dan banyak lagi semacam terjadi di daerah minus Trisik,pantai selatan Jawa Tengah, disekitar tahun 60-an. Sumber konflik terpusat kepada perkara sengketa soal tanah. Berarti fakta-fakta ini membuktikan kebenaran dari pernyataan tokoh founding father dan proklamator kita Bung Karno bahwa Revolusi Agustus 1945 belum selesai. Terutama menyangkut masalah Agraria atau Landreform. Hingga kini, tanpa solusi yang benar,dimana sesungguhnya tanah mutlak diprioritaskan buat sipenggarap (kaum tani). Bukan dimonopoli dan diobok-obok oleh para tuan tanah dan para penguasa birokrat yang bersekongkol dengan pengusaha asing mengambil keuntungan mengeruk hasil bumi tanah air kita.
JENDELA TERBUKA



Lima puluh tahun jendela ini terbuka
Pagi malam menghadap bulan dan matahari
Tempat cahaya masuk menghangati rumah
Dan angin membawa wangi kembang melati
Lima puluh tahun jendela ini terbuka
Di dalamnya ada aku dan isteriku
Juga anak kami yang masih kecil


Di dinding ada sajak Agam Wispi, tentang Latini
Ada sajak Klara Akustia, “Sebutkan segala penjara itu adalah Aku”
Ada sajak paman Ho Chi Minh “Tunggu aku masih sibuk berperang”

Ada sketsa poster tua karya Affandi “Boeng Ajo Boeng!”

Juga ada sketsa lukisan “Peristiwa Djengkol”,”Marsinah” dan “Munir”.

Lima puluh tahun telah berlalu
Sajak dan sketsa itu masih ada


 


Lido, 15 September 2011


Amrus Natalsya


 
“Perjalanan Bumi Tarung” (oil on canvas,200x476cm,2011) karya perupa SBT Amrus Natalsya,selama setengah abad sejak berdirinya th 1961 di Yogyakarta SBT berpacu mengarungi kehidupan 3 zaman (orde lama,orde baru,dan reformasi),lewat berbagai tantangan peralihan sistem kekuasaan dan korban-2 hak azasi kemanusiaan yang jatuh,iapun tetap mempertahankan keberadaan (eksistensi) nya dengan tegar hingga kini dalam sejarah…………..
 
 
 
“Dari Proklamasi ke Transisi” (Akrilik,180x120cm) karya perupa SBT Misbach Tamrin 
 
SAJAK CALAEIDOSCOPIS DUNIA / Oleh Amrus Natalsya
(Peringatan ke 67 Th Proklamasi Kemerdekaan kita)
“Revolusi belum selesai,adil dan dan makmur belum tergapai…”,begitulah kata-kata yang diusung dalam cukilan kayu (grafika) Suhadjija Pudjanadi perupa SBT,salah satu karyanya yang bakal tergelar dalam pameran senirupa SBT Ultah ke-50 yad. Suatu ucapan terkenal Bung Karno,bahwa Revolusi Agustus 1945 belum selesai,terbukti dengan nyata dalam keadaan dinegeri kita sampai sekarang………….

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

 


Bookmark and Share
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s