Sanggar Bumi Tarung : Berjuta mata sebagai saksi bisu #50tahun1965 [pameran online] [genosida 1965; tragedi 1965]

Artwork on 1965 Indonesia Massacres – Artwork on 1965 Indonesia Genocide – Artwork on 1965 Indonesia Tragedy

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65

 PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/
tahan semua rasa pedih itu / dengan ketabahan / ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka (Amrus Natalsya – Sanggar Bumi Tarung)
 
*berjuta mata sebagai saksi bisu diambil dari judul lukisan Amrus Natalsya
 
sumber foto dan teks 

simak lapak literasi genosida politik 65-66 :

Putusan Akhir Majelis Hakim International People’s Tribunal 65Rumah Baca (Pustaka) Genosida 65Kumpulan Tesis dan Disertasi Terkait Genosida 1965Supersemar, Kudeta Suharto dan Genosida 1965-1966Kudeta Suharto dan de-Soekarnoisasi : Soekarno telah dibunuh dua kali! , Menggulingkan Soeharto Sekali Lagi : Suara Mereka Yang Kalah, Suara Mereka Yang Menolak Takluk ; Pramoedya Ananta Toer dan Takdir Sejarah Max Lane : Sejarah, 1965 dan Elan Revolusi Indonesia (kompilasi artikel)Hasta Mitra (Tangan Sahabat) : Bertarung Melawan PembodohanBuku Kiri, Ultimus dan Bilven Sandalista;  “The 1965 Coup in Indonesia: Questions of Representation 50 Years Later” – LITERARY STUDIES CONFERENCE SANATA DHARMA;  Lekra, Sastra dan 1965Putu Oka Sukanta : Menulis Adalah Perjuangan Untuk HidupUmi Sardjono, Sulami, Gerwani, Fitnah Lubang Buaya dan Genosida 65‘Dance of the Missing Body’ : Mengenali Tubuh Menari dan Sejarah Kekerasan bersama Rachmi Diyah LarasatiNestapa Eksil 1965, Klayaban di ‘Pengasingan’Sastra Yang Membela Korban dan Meretas Kabut Sejarah Genosida 1965Syawal Itu MerahAmanat Konstitusi Yang Terpenggal : UUPA, Landreform, Gerakan Tani dan Genosida 65, Tak Hanya Ratusan Ribu Kepala, Proklamasi 17-8-1945 Pun Ditebas (Ekopol Genosida 1965),  Cerita-cerita #1965setiaphari;  INGAT 65 [Ceritaku ceritamu cerita kita tentang 65]Bioskop Jejak Genosida 65 (bagian 1),  Bioskop Jejak Genosida 65 (bagian 2), Bioskop Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer)Film Sang Penari : Menari Sembari Menumpang Kereta Sejarah… Tsunami Sosial-Politik 1965 Tanpa Menyisakan Luka?,  Melawan Tabu dan Kebisuan, Mensubversi Film Propaganda Hitam Pengkhianatan G30S/PKIMozaik Jejak Kiri di Indonesia : Kotak Pandora ‘Kejatuhan Suharto’ atawa Habis (di)Gelap(kan) Terbitlah Terang , [arsip] Jejak Kiri Indonesia, Gestok dan Genosida 65 – Cerita Pagi Hasan Kurniawan,   [Jasmerah] Sejarah Gerakan Kiri Yang Dihilangkan

Simak juga pameran online genosida politik 65-66 : 

PRAKATA LITERASI GENOSIDA 1965-1966Lorong Genosida (Politisida) 1965-1966Dadang ChristantoSanggar Bumi Tarung,Dolorosa SinagaElisabeth Ida Mulyani,  Dewi CandraningrumYayak YatmakaKoes KomoNobodycorp. Internationale UnlimitedKomunal Stensil, ,Didot Klasta HarimurtiMade Bayak Rangga Purbaya,  Andreas IswinartoTARINGPADIObed Bima WicandraMars NursmonoGregorius Soeharsojo Goenito,  SILENCE & ABSENCE [Adrianus Gumelar Demokrasno – Bunga Siahaan] ,   Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisnakolaborasi Jagal Bukan Pahlawan!mozaik rupa : kuburan massal 65-66 bernama ‘indonesia’ ; Awas 30 S Art Project,  Daniel Rudi HaryantoTerrorPaint-Benk Riyadi-Riza-Suhendra-Awank,Rista Dwi IKoleksi Foto Kamp Konsentrasi Tahanan Politik 65The Act of Living – Perempuan Penyintas 1965 (feature foto)Okty Budiarti – KAMI BERNYAWA : Butiran Aksara Untuk Tragedi 65Kharisma Jati (komik), Aji Prasetyo (komik), Arip Hidayat (komik), Evans Poton dkk(komik), Eko S Bimantara (Komik), Museum Bergerak 1965Museum Rekoleksi Memori,  ‘Mwathirika’ and The Victim’s Silent Tale Kesetiaan, Keteguhan, Kesunyian Hingga Akhir Hayat (Mengenang Basuki Resobowo)

SETJANGKIR KOPI DARI PLAJA hingga NYANYI SUNYI KEMBANG-KEMBANG GENJER [1965 di Panggung Teater], Paduan Suara Dialita : Salam Harapan Padamu KawanSpatial History : Pertanyaan Subversi Irwan Ahmett Soal Supersemar (Presentasi Seni)  ,  Prison SongMusik Tigapagi – SembojanAlbum Lagu Genjer-genjerEvil Wars In 1965 (Musik Benny Soebardja dkk)The Act of Killing Mixtape (kompilasi musik),  Stand Up Comedian Melawan Tabu-Melawan Lupa

 

 

Buat sekian kali, kupajang lagi lukisan “Bumi Tarung 1965” ini kehadapan anda dan teman-teman, selaku “in-memoriam” atas kepergian Ben Anderson penemu sebutan “gulag-tropis” bagi segenap kamp-kamp tahanan peristiwa Tragedi Kemanusiaan 1965 yang berada di bumi Nusantara kita. Terutama yang paling presis mengena untuk sebutan yang bernuansa “neraka hunian” yang kejam itu,adalah kamp pembuangan Pulau Buru. Ada 6 orang anggota komunitas sanggar Bumi Tarung yang dibuang di pulau tandus yang meranggas itu Usia produktif berkarya senirupa di masa remajanya Isa Hasanda, Gumelar, Gultom, Sediono, Suroso dan Viktor Manurung banyak terbuang sia-sia disini ditenggelamkan cucuran keringat kerja rodi paksa yang tak kenal ampun. Selainnya, Amrus Natalsya nakhoda SBT yang saat itu satu-satunya yang sudah berkeluarga, dalam lukisan ini tampak dengan wajah geram dan getir dipaksa dalam pasungan, terenggutkan dari anak-anak dan isterinya yang tengah memelas ditinggalkan pergi untuk waktu yang tak terukur. Kawan-kawannya yang lain tentu mengikutinya secara berbondong-bondong tergiring oleh aparat bersenjata penguasa rezim Orba, memasuki liang pesakitan yang disebut Ben Anderson “gulag -tropis” tersebut. Sedangkan yang ditinggalkan mereka di luar, suasana khaos yang berantakan terobrak-abrik keganasan aparat. Karya patung Amrus terbaik “Keluarga tandus di senja kala” dibakar, piring pecah belah,buku-buku, cat-cat tube lukis, dan kanvas-kanvas berhamburan…… (Misbach Tamrin)
Karya lukisan perupa dan pendiri SBT Amrus Natalsya “Berjuta mata sebagai saksi bisu”. Sang pelukis mengungkapkan betapa dahsyat peristiwa Tragedi Nasional 1965,disamping ribuan atau mungkin jutaan ruh korban bersayap yg melayang-layang dilangit yg enggan dan tak rela dilenyapkan secara tak wajar lewat pembantaian yg diangkut ratusan truk dibumi. Namun ribuan mata yang membentuk piramid cahaya dilangit,terutama mata “malaikat” yang menyaksikan tragedi ketidakadilan ini. Kita harapkan di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang telah berjanji lewat Nawacitanya untuk menyelesaikan dan menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, termasuk perkara peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 itu, dapat dilaksanakan secara konsisten……
 
 
 
“Interogasi Orde Baru”,karya perupa pendiri SBT 1961 Amrus Natalsya yg menggambarkan eskalasi pemeriksaan (interogasi) rezim Orde Baru terhadap para tapol peristiwa “Tragedi Nasional 1965″……
Seorang perupa SBT kelahiran Pancur Batu Medan yg telah wafat (1932 – 2001) Puji Tarigan tampil di pameran Ultah ke-50 SBT 2011,dengan karyanya “Tragedi Nasional 1965” (oil on canvas,110×80 cm). Selaku seorang pelukis nasrani Puji Tarigan berimajinasi secara surealis lewat karyanya,bahwa tindak pelanggaran hak azasi manusia pada peristiwa ’65 demikian tragis dan mengenaskan. Dengan adanya genocide (pembantaian) diantara bangsa sendiri,tak luput dari kesaksian Yesus yg sedang terpaku di salibnya dengan sedih. Yang juga ia sebagai korban yg sama dari penganiayaan kejahatan manusia………..
Ini lukisan perupa SBT terkenal Djoko Pekik yang berjudul “Tak seorang berniat pulang,walau mati menanti” (meminjam judul sajak penyair Lekra HR Bandaharo)…. 
Ini lukisan karya perupa SBT Misbach Tamrin yang berjudul “Perpisahan”.Melukiskan momen seorang bapak memeluk rangkul anaknya sebagai tanda perpisahan terakhir,yang status keberadaan keduanya selaku tapol 1965 bersama lainnya sedang dalam ruang tahanan,sebelum si bapak dijemput petugas aparat militer Orde Baru untuk selanjutnya dibawa dalam bak truk untuk mendapat giliran dilenyapkan buat selamanya….
Karya kukisan cat minyak (kanvas) perupa SBT Harjija Pujanadi berjudul “Ibu dan anak,yang ditinggalkan”. Melukiskan suatu adegan seorang ibu dengan anaknya ditinggalkan suaminya,karena dijemput paksa oleh aparat penguasa Orde Baru disaat setelah peristiwa G30S 1965,untuk selanjutnya diangkut dalam truk entah kemana dibawa,yang biasanya dan kebanyakan tidak pernah kembali buat selamanya….. 
lukisan perupa SBT Adrianus Gumelar berjudul “Tahanan perempuan Plantungan”,mereka hanya perempuan,ya…memang ada yg menjadi aktivis suatu partai atau ormas terlarang,tapi juga banyak yg hanya keluarga atau isteri tapol,harus meringkuk dipenjara dlm tahunan yang tak terukur………
Sebuah lukisan perupa SBT Hardjija Pudjanadi “Pekerja rodi”, pelukisan kenangan atas pengalaman peristiwa Tragedi Nasional 1965,tatkala para tapol dipekerjakan mendinamit gunung,memecah bongkah batu dg amar menjadi kepingan kecil diangkut dlm keranjang,berbaris beriringan melalui jalan setapak menuju jalan raya yg jauh,untuk dihamparkan buat pengerasan Diatasnya elang berkulik,sbg tanda isyarat ada diantara mereka yg rubuh tak tertahankan……..
Lukisan ini karya dari perupa SBT Sudiyono SP berjudul “Kerja rodi tapol di Nusakambangan”.Si pelukisnya mengangkat pengalamannya selama berada di kamp ini, sebelum ia dikirim ke Pulau Buru.Disini juga terjadi korban hari demi hari,krn kelaparan kurang gizi dan tanpa perhatian medis atas kesehatan mereka. 
Lukisan karya perupa SBT Adrianus Gumelar “Gulak tropis Pulau Buru” yg juga telah dipamerkan dalam Pameran Senirupa Ultah ke-50 SBt tahun yl di Galeri Nasional Indonesia. Dalam sejarah, kawasan Pulau Buru (Indonesia Timur) adalah bekas tempat para tapol Peristiwa Tragedi Nasional 1965 di kamp konsentrasikan. Disini, mereka diasingkan selama berpuluh tahun, sambil dimanfaatkan tenaga dan pikirannya untuk membalik tanah gersang yg tak subur itu menjadi lahan untuk mereka bertahan hidup dengan kerja keras semacam kerja rodi. Hasilnya setelah mereka dibebaskan, ternyata yg tadinya merupakan pulau yang mati (gersang) itu, telah menjadi lahan subur yg produktif dan menjadi proyek percontohan dari pembangunan daerah yang tertinggal…….
Sebagai kenangan,kami sajikan pula karya almarhum Sediono, perupa SBT asal Yogyakarta (jebolan penjara Nusakambangan dan “gulak tropis” Pulau Buru) yg telah meninggal sekitar 2 tahun y.l, dlm usia 76 th, berjudul “Digiring ke kuburan massal” (Salah satu episode tema dari banyak peristiwa Tragedi Nasional1965).
Karya perupa SBT Misbach Tamrin “Eksekusi dipinggir jurang”
 
 
 
PERJALANAN BUMI TARUNG
 
 
Bumi Tarung hadir menerabas semak belukar kekuasaan yang menggelar pragmatisme, pedangkalan dan komoditisasi kebudayaan. Ia hadir untuk mengingatkan Indonesia pernah memiliki kebudayaan yang tidak untuk dijual, tetapi untuk melindungi rakyatnya. Semboyan “Politik sebagai panglima” dibawakannya bukan untuk menabuh genderang politik tahun 60-an. Bukan untuk menjadi mercusuar gerakan rakyat demi merapatkan barisan menyingkirkan kekuatan lama menyambut bangkitnya kekuatan baru. Melainkan ia hadir mengarungi “lautan oblivia” melawan pelupaan…….
(Agung Putri Astrid,dlm pengantar buku “Tetap Bumi Tarung”).
 
 
 
Ini lukisan perupa SBT Amrus Natalsya yang berjudul “Kawan-kawanku” (1958),sebuah karya lamanya yang telah menjadi koleksi Bung Karno.
 
Lukisan ini karya perupa SBT Misbach Tamrin “Purnama diturba pantai Trisik” (Akrylic on canvas,150 x 150 cm,2011). Ternyata berbagai peristiwa krusial ditanah air kita belakangan ini, seperti di Mesuji,Bima,Sampang,Kotawaringin Barat dll itu juga telah terjadi sejak setengah abad yang lampau. Dengan metetusnya peristiwa Djengkol, Bandarbetsi dan banyak lagi semacam terjadi di daerah minus Trisik,pantai selatan Jawa Tengah, disekitar tahun 60-an. Sumber konflik terpusat kepada perkara sengketa soal tanah. Berarti fakta-fakta ini membuktikan kebenaran dari pernyataan tokoh founding father dan proklamator kita Bung Karno bahwa Revolusi Agustus 1945 belum selesai. Terutama menyangkut masalah Agraria atau Landreform. Hingga kini, tanpa solusi yang benar,dimana sesungguhnya tanah mutlak diprioritaskan buat sipenggarap (kaum tani). Bukan dimonopoli dan diobok-obok oleh para tuan tanah dan para penguasa birokrat yang bersekongkol dengan pengusaha asing mengambil keuntungan mengeruk hasil bumi tanah air kita.
JENDELA TERBUKA



Lima puluh tahun jendela ini terbuka
Pagi malam menghadap bulan dan matahari
Tempat cahaya masuk menghangati rumah
Dan angin membawa wangi kembang melati
Lima puluh tahun jendela ini terbuka
Di dalamnya ada aku dan isteriku
Juga anak kami yang masih kecil


Di dinding ada sajak Agam Wispi, tentang Latini
Ada sajak Klara Akustia, “Sebutkan segala penjara itu adalah Aku”
Ada sajak paman Ho Chi Minh “Tunggu aku masih sibuk berperang”

Ada sketsa poster tua karya Affandi “Boeng Ajo Boeng!”

Juga ada sketsa lukisan “Peristiwa Djengkol”,”Marsinah” dan “Munir”.

Lima puluh tahun telah berlalu
Sajak dan sketsa itu masih ada


 


Lido, 15 September 2011


Amrus Natalsya


 
“Perjalanan Bumi Tarung” (oil on canvas,200x476cm,2011) karya perupa SBT Amrus Natalsya,selama setengah abad sejak berdirinya th 1961 di Yogyakarta SBT berpacu mengarungi kehidupan 3 zaman (orde lama,orde baru,dan reformasi),lewat berbagai tantangan peralihan sistem kekuasaan dan korban-2 hak azasi kemanusiaan yang jatuh,iapun tetap mempertahankan keberadaan (eksistensi) nya dengan tegar hingga kini dalam sejarah…………..
 
 
 
“Dari Proklamasi ke Transisi” (Akrilik,180x120cm) karya perupa SBT Misbach Tamrin 
 
SAJAK CALAEIDOSCOPIS DUNIA / Oleh Amrus Natalsya
(Peringatan ke 67 Th Proklamasi Kemerdekaan kita)
“Revolusi belum selesai,adil dan dan makmur belum tergapai…”,begitulah kata-kata yang diusung dalam cukilan kayu (grafika) Suhadjija Pudjanadi perupa SBT,salah satu karyanya yang bakal tergelar dalam pameran senirupa SBT Ultah ke-50 yad. Suatu ucapan terkenal Bung Karno,bahwa Revolusi Agustus 1945 belum selesai,terbukti dengan nyata dalam keadaan dinegeri kita sampai sekarang………….





bahan bacaan berupa buku dan video online

A. ebook, book online

*beberapa bahan bacaan tidak semata-mata menyoal genosida 65

Cita-cita tentang Indonesia yang demokratis, yang menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan, yang meniscayakan kebhinekatunggalikaan, sejak September 1965 terkubur bersama jutaan bangkai manusia sebangsa. Setelah September 1965, kita seperti orang mabuk yang berjalan terseok-seok, kumuh, dan sering beringas dalam menggapai dan merumuskan identitas sebagai sebuah bangsa. Tapi mengherankan, tidak banyak studi yang dilakukan dalam masa-masa paling gelap itu. Tidak ada ’seujung kuku’ jika dibandingkan dengan, misalnya, studi tentang Holocaus Nazi/Hitler terhadap bangsa Yahudi di Jerman pada masa Perang Dunia II. Padahal, Peristiwa G30S 1965 dan yang menyertainya, merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah Holocaus dalam rentang skala, waktu, dan jumlah korban yang ditimbulkannya. Kita seperti ingin melupakannya ketimbang merenungkannya, ingin membantahnya ketimbang memahaminya.
baca dan unduh  Majalah BHINNEKA Edisi Setengah Abad Genosida”65 
atau
Yang Dibredel Itu! Kini siap diunduh: Salatiga Kota Merah (Lentera) di
Buletin Pamflet : Kotak Pandora 1965
 
Pernyataan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa 1965-1966
John Roosa Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto ( ISSI dan Hasta Mitra, 2007) 
Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65 (Ed. Ayu Ratih, Hilmar Farid dkk)
Mendengar Suara Perempuan Korban Peristiwa 1965

Kisah Para Perempuan Penyintas yang Tak Kunjung Meraih Keadilan

(khususnya hal 43-141 yang terkait penyintas 65)

Bab 3. Para Nenek Yang Berjuang Demi Keadilan dan Kebenaran

Bab 4. Berjuang Dalam Lingkaran Kekerasan dan Trauma

Bab 5. Nusa Tenggara Timur : Kekerasan Yang Dirahasiakan

http://www.asia-ajar.org/files/Indonesia%20Report%20-%20Bertahan%20dalam%20Impunitas-low.pdf

Menyusul Puzzle Pelanggaran HAM 65 : Blitar dan Buton  http://www.kontras.org/buku/MENYUSUN_PUZZLE_PELANGGARAN_HAM_1965.pdf
 Tanah Berdarah Di Bumi Merdeka : Menelusuri Luka-Luka Sejarah 1965 – 1966 Di Blora
Tuturan Penyintas Tragedi 65 : Sulawesi Bersaksi
Pelanggaran HAM Peristiwa 1965/1966 di Kota Palu
melawan lupa narasi-narasi komunitas taman 65 bali

Mematahkan Pewarisan Ingatan: Wacana Anti-Komunis Dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto
Pulangkan Mereka! Merangkai Ingatan Penghilangan Paksa Di Indonesia
Djinah 1965, Years of Silence – Evans Poton.
Indonesia Yang Dibayangkan: Peristiwa 1965-1966 dan Kemunculan Eksil Indonesia 
Penggambaran GERWANI sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan 
(Fitnah dan Fakta Penghancuran Organisasi Perempuan Terkemuka)
baca juga KUNTILANAK WANGI -Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950

https://www.academia.edu/9654687/Kuntilanak_Wangi

Akar dan Dalang – Suar Suroso
 
Mengorek Abu Sejarah Hitam Indonesia – Yoseph Tugio Taher 
REPRESENTASI TRAGEDI 1965 :
KAJIAN NEW HISTORICISM ATAS TEKS-TEKS SASTRA &NONSASTRA 66-98

Hilmar Farid : Indonesia’s Original Sin : Mass Killing and Capitalist Expansion 1965-1966

http://www.scribd.com/doc/28704618/Hilmar-Farid-Indonesia-s-Original-Sin
A Prelimenary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia 
– Benedict Andreason and Ruth Mc Vey

Another Look at the Indonesian Coup -Harold Couch 
Sexual Slander and the 1965-1966 Mass Killings in Indonesia : Political dan Methodological Consederations Saskia Eleonora Wieringa
Introduction: The Massacres of 1965–1966: New Interpretations and the Current Debate in Indonesia Annie Pohlman
The Initial Purging Policies after the 1965 Incident at Lubang Buaya – Yosef Djakababa
The Organisation of the Killings and the Interaction between State and Society in Central Java, 1965 – Mathias Hammer
Why Not Genocide? Anti-Chinese Violence in Aceh, 1965–1966 – Jess Melvin
Child-raising, Childbirth and Abortion In Extremis: Women’s Stories of Caring for and Losing Children during the Violence of 1965–1966 in Indonesia – Annie Pohlman
Seducing for Truth and Justice: Civil Society Initiatives for the 1965 Mass Violence in Indonesia – Sri Lestari Wahyuningroem
Documentation: Reports by Human Rights and Victim Advocacy Organisations in Indonesia: Reconciling the Violence of 1965 – Annie Pohlman
Still Uninvestigated After 50 Years: Did the U.S. Help Incite the 1965 Indonesia Massacre? Prof Peter Dale Scott
Truth Will Out: Indonesian Accounts of the 1965 Mass Violence
Neglected Duty: Providing Comprehensive Reparations to the Indonesian “1965 Victims” of State Persecution. ICTJ; Teresa Birks. 
https://www.ictj.org/sites/default/files/ICTJ-Indonesia-Reparations-Victims-2006-English.pdf
Indonesias unresolved mass murders : Undermining Democracy – TAPOL
Indonesia 65 Documents  Amnesty Internasional



 
B. video online
 
 
Senyap – The Look of Silence
Jagal – The Act of Killing (full movie)
Jembatan Bacem : Fim Dokumenter Tentang Peristiwa 1965 (1)

Jembatan Bacem : Fim Dokumenter Tentang Peristiwa 1965 (2)
The Shadow Play (CIA roles in Indonesian Killings of 1965-1966
https://www.youtube.com/watch?v=lTBCHvumJvA
Saya Rasa Itu Sulit Dilupakan
Plantungan: “Pictures of suffering and a woman’s power
Tjidurian 19: Rumah Budaya yang Dirampas (Seized Culture House)
Imam Komunis
Indonesia: Menyemai Terang Dalam Kelam
Indonesia: Perempuan Yang Tertuduh
Para Perempuan yang Mengubur Dendam
https://www.youtube.com/watch?v=WM1CxUScKY0
Indonesia: Kado Untuk Ibu
Tumbuh Dalam Badai Anak Korban Stigma 1965

40 Years of Silence

sang penari (dari novel ronggeng dukuh paruh)

The New Rulers of The World
https://www.youtube.com/watch?v=79pt0VkXPmI
film ini baik untuk memahami konteks global persoalan kedaulatan politik-ekonomi negeri ini termasuk memahami konteks global genosida 65

Dance of the Missing Body
http://www.engagemedia.org/Members/kotakhitamforum/videos/dance_of_the_missing_body
Kuliah Umum Buku: “The Dance That Makes You Vanish. Cultural Reconstruction in Post-Genocide Indonesia”, oleh Rachmi Diyah Larasati, tanggal 5 Juli 2013, di Indonesian Visual Art Archive
https://www.youtube.com/watch?v=7X0261Po71M#t=11
Lifting Dignity: A Short Note of Putu Oka Sukanta
http://asia-ajar.org/2015/08/lifting-dignity-a-short-note-of-putu-oka-sukanta/

r.i (restoran Indonesia)

https://drive.google.com/folderview?id=0B4B8Ek70x1gRMXNNVVFWUzlKMGM&usp=drive_web

Permadi Lyosta: Pelukis Rakyat , Lekra dan Tragedi (I)

https://www.youtube.com/watch?v=cMB_jIzQLzA

 

Permadi Lyosta: Pelukis Rakyat , Lekra dan Tragedi (II)

https://www.youtube.com/watch?v=HfGE67cHtrk

 

Hersri Setiawan: Lekra sebagai Gerakan Kebudayaan Rakyat (I)

https://www.youtube.com/watch?v=km-jTuUHL8c

 

Hersri Setiawan: Lekra sebagai Gerakan Kebudayaan Rakyat (II)

https://www.youtube.com/watch?v=c_Ar1bTLe9o

 

Mia Bustam dan Lekra

https://www.youtube.com/watch?v=Bsd2RsWs9aY

 

Oey Him Wie: memori tentang Buru

https://www.youtube.com/watch?v=yKpF_pbrBoo

In Defiance: Voices of Torture Survivors, Sri Sulistyowati
In Defiance: Voices of Torture Survivors, Sri Suprapti
In Defiance: Voices of Torture Survivors, Tan Swie Ling

Pementasan Teater Nyanyi Sunyi Kembang-kembang Genjer
https://www.youtube.com/watch?v=A7OGfkAr-xc
Filastine – Genjer-Genjer
www.youtube.com/watch?v=Y_XS_2Hni8w


KISAH PARA EKSIL 65

Cerita para eksil 1965: ‘Identitas dicabut, seolah nyawa dicabut’
Menunggu puluhan tahun di Praha untuk paspor Indonesia
Ribuan buku peristiwa 1965: Mengubah kesedihan menjadi kekuatan
‘Tertahan pulang’, Florensia jadi dokter tujuh tahun di Perang Vietnam
Cucu eksil: Peristiwa 1965, sejarah yang tak boleh dilupakan


Bookmark and Share
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s