Museum Temporer REKOLEKSI MEMORI (Tragedi Kemanusiaan 1965 adalah mulanya….) (pameran online)

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65


PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/

Ringkasan Temuan dan Rekomendasi Sidang IPT 1965

 
MENJADI BARISAN PENGINGAT
 
50 tahun setelah tragedi kemanusiaan 65, kita masih saja berdiri di sini. Masih terus bertanya dan mencerna, mengapa sebuah gelombang pembantaian, pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan dan seluruh kekejian tiada tara itu seolah dianggap tak pernah ada? Bangsa macam apa kita, yang terus-menerus menutupi tabir kelam sejarahnya sendiri, kendati telah banyak bukti dan saksi dari artefak hingga para korban dan penyintas sanggup bercerita tentang rangkaian luka dan keperihan yang mereka alami? Sejarah macam apa yang hendak dibangun dan diwariskan di atas kebohongan demi kebohongan yang terus direproduksi?
 

Tak ada pilihan lain. Kita harus sudi menengok ke belakang, mencoba menggali suara dari masa lalu, merekoleksi memori kita untuk dapat memahaminya dengan nalar dan mata hati yang jernih hari ini. Untuk kemudian, belajar menerima kenyataan –sepahit apapun- dan mengakui bahwa telah terjadi sebuah tragedi kemanusiaan pada kurun waktu 1965- 1967, dan budaya kekerasan yang diwariskan itu terus berlanjut hingga hari ini, 50 tahun kemudian. Inisiatif Museum Rekoleksi Memori ini didedikasikan kepada seluruh korban pelanggaran HAM yang sudah tiada dan yang terus memperjuangkan keadilan. Tak ada yang dapat menghidupkan orang-orang yang telah meninggal, tak ada kompensasi yang dapat menggantikan derita jutaan orang, Tak ada yang dapat menggantikan 






Mengapa Rekoleksi Memori?
Rekoleksi Memori adalah Proses yang digunakan untuk mengetahui, menggali masa lalu dengan cara memanggil kembali memori dari masa lampau dari ingataningatan pelaku sejarah yang tak dicatat dalam buku sejarah.

Tragedi Kemanusiaan 1965 adalah mulanya, setelah itu masih ada Kasus pelanggaran HAM berat lainnya: Penembakan Misterius, Tanjung Priok, Talang Sari, Penghilangan Paksa 19997- 1998, Kerusuhan Mei 1998, Trisakti, Semanggi I&II, Marsinah, Udin, Wasior yang terus terjadi dan tak jua mampu diselesaikan.

Rekoleksi Memori adalah upaya untuk makin merumah- kacakan sejarah kita, dengan memanggil masa lalu, mengumpulkan memori-memori, mengenal jatidiri untuk menghapus hegemoni ORDE BARU yang sudah mengakar menanamkan kekerasan.

Atas Sejarah yang belum lagi diluruskan, Berbagai Peristiwa pelanggaran HAM yang belum lagi dituntaskan, Atas sejarah yang masih terus diburamkan, Atas dasar keadilan dan kemanusiaan maka seluruh peristiwa harus dibuat seterangterangnya, sejernih-jernihnya, karena Ia adalah pelita bagi generasi hari ini untuk mengenal sejarahnya sendiri dan memberikan petunjuk untuk masa depan.

Rekoleksi Memori adalah sebuah langkah untuk terus mendesak diselesaikannya kasus pelanggaran HAM di Indonesia. 


Rekoleksi Memori : Konsep Instalasi Museum

http://www.stephanielarassati.com/rekoleksi-memori.html



*bisa disimak juga di buku program

 


buku program 
 
 

Elisabeth Ida adalah salah satu penggagas dan partisipan yang karyanya menjadi bagian dari pameran Rekoleksi Memori


CONSTRUCTION


DECONSTRUCTION
RECONSTRUCTION
foto-foto : Elisabeth Ida

 

karya selengkapnya bisa disimak di 

http://lightfacts.tumblr.com/post/139840799540/dere-construction



Adrian Mulya dengan karya fotonya pemenang kehidupan jugamerupakan penggagas dan partisipan pameran, sebagian karyanya bisa disimak di

Winners of Life: The Undeterred spirit of the 1965 Survivors 


foto-foto : magdalene.co


 

Foto-foto Karya dan Ulasan 


REKOLEKSI
MEMORI – Firdaus Mubarik
 
foto oleh Firdaus Mubarik
Judul
: or.de Karya Sigit Pratama
 
 
 

amnesia arsip dari fiksi atas fiksi – Riyadhus Shalishin


foto pameran dari artikel Riyadhus Shalihin
Judul:
Untitle Instalasi, 2015 Karya Jompet Kuswidananto
 

Rekoleksi Memori: museum temporer pelanggaran HAM – Ging Ginajar

Museum Lima Malam untuk Mengenang Masa Kelam

Merayakan kemanusiaan melalui karya seni. Mengenang kepedihan sekaligus memetik pelajaran darinya.

Bonie Triyana dan Ayono


foto : Aryono/Historia
Wahana
Loebang Maoet – Instalasi video kanal ganda, 2015 Karya Yovista Ahtajida

 

 

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

 

Bookmark and Share
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s