Elisabeth Ida Mulyani : (DE/RE) CONSTRUCTION – SEJARAH SIAPAKAH ? [pameran online] [genosida 1965; tragedi 1965]

Artwork on 1965 Indonesia Massacres – Artwork on 1965 Indonesia Genocide – Artwork on 1965 Indonesia Tragedy

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65

 PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/
SEJARAH SIAPAKAH ?
 
Elisabeth Ida
Mulyani, 2012 – 2015
Kurator : Joachim
Naudts (BE)
 
Karya ini tersusun dari tiga ruang – secara harfiah maupun
gramatikal, tentang struktur dan proses melepaskan diri dari kebenaran tunggal
yang dipaksakan oleh rezim Orde Baru.
 
Ruang pertama adalah “Konstruksi”, dimana dua elemen
propaganda Orde Baru ditampilkan.
 
“Dekonstruksi” merupakan proses mendudah konstruksi yang
sangat mengakar tersebut, dengan jalan melihat sejarah dari sisi lain, yang
dikelamkan semenjak tragedi 1965-6 hingga saat ini.

(SUPERVIVERE serial)

 
“Rekonstruksi” merupakan visualisasi pemahaman yang
dihasilkan dari ruang pikiran sebelumnya, sekaligus merupakan proses
pemerdekaan dari konstruksi yang dipaksakan tersebut.


*publikasi ini atas seijin Elisabeth Ida

 

 






CONSTRUCTION

DECONSTRUCTION



(narasi-narasi eksil 65)

 
SUPERVIVERE
 
 
 
SUPERVIVERE
 
 
 
 
 
 
 
RECONSTRUCTION
“Indonesia Sejak Saat Itu” (Indonesia since then), 2015,  

collaboration with Derek Bacon.  





“Bunuh (Kill) 2016

 
 




karya selengkapnya sila klik
 

(DE/RE) CONSTRUCTION


http://lightfacts.tumblr.com/dereconstruction


Elizabeth Ida dan  Gambar yang Bicara

Seorang perupa mengangkat kejahatan kemanusiaan pada 1965 menjadi tema karyanya. Dekonstruksi tanpa provokasi.

Elisabeth Ida adalah Seniman Indonesia Pertama Berpameran di Strombeek Belgia

….Baru kali ini ada pekerja seni asal Indonesia yang nongol di Pusat Budaya Strombeek. Yaitu Elisabeth Ida. “Tentu saja ada rasa bangga, di samping rasanya seperti mimpi di siang bolong. Karena tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak karya seni saya bisa begitu dihargai dan bahkan dipajang di Pusat Budaya Strombeek,” kata Ida saat ditanya tentang undangan berpameran di Pusat Budaya Strombeek di Belgia.

Bukan hanya itu, Ida bahkan merasa pilihan profesinya sebagai seorang seniman semakin mantap setelah karyanya disejajarkan dengan seniman –seniman besar dunia yang juga pernah menggelar pameran di sana. Seperti Andy Warhol, Bernd & Hilla Becher, John Cage, Joseph Beuys, Thomas Ruff, Mario Merz, Michelangelo Pistoletto, Jimmie Durham, Hans Haacke.

Untuk bisa menggelar pameran di Pusat Budaya Strombeek, juga sangat selektif. Dewan direksi dan kurator yang selalu up date dengan informasi seni mengetahui dan mengikuti jejak karya para seniman, baik yang ada di dalam negeri Belgia maupun di luar Belgia. Mereka lalu menggagas sebuah konsep pameran. Seniman yang karyanya sesuai dengan tema lalu diundang untuk memamerkan hasil karya mereka.

Menurut kurator seni Lieze Eneman, jelas terlihat bahwa Elisabeth mengembangkan bentuk seni fotografi yang tidak saja artistik tapi juga berdasarkan penelitian yang sejalan dengan tema diaspora, imigrasi dan rumah. Dalam tema pameran kali ini, semuanya terlihat menyatu dalam sebuah tema yang pas……..

dikutip dari tempo.co Seniman Indonesia Pertama Berpameran di Strombeek Belgia

simak selengkapnya berita Tempo tentang pameran Elisabeth Ida di Belgia





Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Bookmark and Share
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s