Didot Klasta Harimurti : Korban2 & Versi2; Mereka Membunuh [art project on 65] [genosida 1965; tragedi 1965]

Simak! Temuan dan Rekomendasi Majelis Hakim International People’s Tribunal 65

PUTUSAN AKHIR MAJELIS HAKIM IPT 1965 (teks terjemahan)  http://www.tribunal1965.org/id/putusan-akhir-majelis-hakim-ipt-1965/
Korban2 & Versi2 mengeksplorasi aspek-aspek korban dan versi
dalam ‘Peristiwa 65’; pembantaian dan penindasan terhadap anggota-anggota
Partai Komunis Indonesia di tahun 1965 sampai akhir 60an. Setidaknya sekitar 2
juta orang dibunuh. Penindasan ini sejatinya terus berlangsung hingga hari ini.
Saya berusaha merepresentasikan keluasan dan kompleksitas pengertian korban
sekaligus investigasi berbagai versi ‘fakta’, sudut pandang, narasi mengenai
peristiwa ini. Korban2 & Versi2 saya kembangkan tahun 2013 dan berlanjut selama
program residensi di Perth Intitute of Contemporary Arts, Australia tahun 2014
dimana karya ini sekaligus dipamerkan di studio saya.


seluruh karya poster di bagian ini adalah karya 
*pemuatannya/publikasi ini atas seijin yang bersangkutan. 
hormatku kamrad 
(admin lenteradiatasbukit)
 
 
 
 
 
 
versi lebih lengkap klik

 

 

 
 
Mereka Membunuh; menelusuri pelaku dalam pembunuhan /
kekerasan massal di Indonesia – ‘Peristiwa 65’; yaitu pembantaian dan
penindasan terhadap anggota-anggota Partai Komunis Indonesia di tahun 1965
sampai akhir 60an. Setidaknya sekitar 2 juta orang dibunuh. Penindasan ini
sejatinya terus berlangsung hingga hari ini, Menelusuri tindakan kekejamannya
dan motifnya. Ini juga pencarian introspektif ke dalam ceruk-ceruk gelap hasrat
kita semua. Sebab para pelaku ini bukan makhluk asing yang hanya tinggal selama
2 jam dalam filem triler Holiwud dengan kekerasan fiktifnya. Melainkan manusia
nyata, yang melakukan kekerasan nyata, menumpahkan darah nyata dari korban
manusia nyata.
 
 
didot klasta himself
 
 
Aku
datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Kedalaman relung-relung dingin, lembab,
busuk … hati manusiamu. Aku menggerogoti jiwamu. Bercampur darah hitam terbakar
merah. Menggelegak … Berbuih … Mendidih … Berkobar … Panas menjalari pelosok
tubuhmu. Jadi gumpal-gumpal api di kepalan tangan-tanganmu … Angkara

Aku
datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Menjelma orang-orang bermata buas. Di
atas truk-truk hitam tak dikenal dengan geram mesin bagai seringai mimpi buruk
terjaga nanap. Mendatangi mereka di tengah malam jahanam. Berangkat dalam diam
menuju ide-ide kekerasan di kepalamu. Dan mereka berdoa pada tuhan-tuhannya.
Antara hidup dan mati dan hidup dan mati atau hidup atau mati atau hidup atau
mati. Dan aku lebih tuhan dari tuhan. Aku … Eksekusi
 

Aku
datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Untuk menghabisi, hanya menghabisi.
Mungkin aku akan membunuh. Kutebas batang lehernya. Kumuncratkan otaknya.
Kuberondong dadanya seribu lubang dengan senapan otomatis. Kubakar seluruh
keluarganya. Kunista harga dirinya. Langsung mati atau pelan-pelan mati.
Tergantung napsuku akan kepuasan

Aku
datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Di malam laknat paling laknat itu
mungkin ia kuperkosa dengan brutal. Atau dengan kelembutan yang mengancam.
Mungkin cukup kuremukkan jari kakinya. Atau rangkaian penyetruman melumpuhkan
mungkin lebih menyenangkan. Bisa apa saja, apapun hal keji yang bisa
dibayangkan peradaban. Sebab aku maha kuasa. Atau mungkin kulepas pergi. Dan
kusaksikan mereka menyembahku dengan terkencing-kencing lantas berlari,
berlari, berlari dan lari dan lari dan lari. Membawa bayanganku yang
membunuhnya berkali-kali, lagi dan lagi dan lagi

Aku
datang dari segelap-gelapnya kegelapan. Sebab ingin menguasai dunia. Sebab
ingin jadi presiden. Sebab ingin masuk sorga. Sebab ingin mulia. Ingin memiliki
rumahnya. Ingin merebut istrinya. Ingin tetap menjadi tuan tanah. Ingin tetap
menjadi tuan atas budak-budak. Ingin mendapat sekantung upah. Ingin menjilat
pantat bossku. Aku tak ingin diancam keadilan. Aku tak ingin kehilangan hak-hak
istimewa. Aku tak ingin mati sebab tidak membunuhnya. Aku tak tahu apa yang
kulakukan. Sebab aku telah jadi gila. Di dunia yang telah lama sudah gila

Apakah
ini cerita masa lalu? Apakah ini tentang pertobatan? Bukan, sama sekali bukan

Dulu
telah kau bakar apa saja untuk membangun megah kekaisaran apimu. Tentu kau tak
akan memadamkannya atau membiarkan siapapun memadamkannya.
Mungkin
kau akan mengaku kebiadabanmu, dengan bangga. Sebuah pengakuan sebagai pertanda
kuasa
yang menyala-nyala


Didot
Klasta
 
 
versi lebih lengkap klik
 

 

 

 

Simak 110 ‘entry’ tematik lainnya pada link berikut

Prakata dan Daftar Isi Genosida 1965-1966

 

Road to Justice : State Crimes after Oct 1st 1965 (Jakartanicus)

 

14542544_1036993449746974_4443364972569517121_o

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s