Bioskop *Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer) *catatan pulau buru [serial Genosida 1965; Tragedi 1965]

 

Pramoedya
Ananta Toer: Mendengar Si Bisu Bernyanyi

Dosa-dosa Soeharto dan orde baru menurut Pramoedya Ananta Toer

ANGKATAN MUDA SEKARANG – Pramoedya Ananta Toer

Sikap dan Peran Kaum Intelektual di Dunia Ketiga, Peranan Intelektual, Kuala Lumpur: Insan, 1987 – Pramoedya Ananta Toer 

Arti Penting Sejarah”, Pidato Pramoedya Ananta Toer pada peluncuran ulang Media Kerja Budaya (14 Juli 1999) 

SASTRA, SENSOR, DAN NEGARA: Seberapa Jauh Bahaya Bacaan? – Pramoedya Ananta Toer

Ma’af, atas nama pengalaman, Pramoedya Ananta Toer

Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun I & II, bagian I: Bintang Timur, 10 Aug, 1 Sept 1962; bagian II: Bintang Timur, 7 Sept, 12 Okt 1962 – Pramoedya Ananta Toer

bagian 1       bagian 2 

Dengan Datangnya Lenin Bumi Manusia Lebih Kaya, Bintang Timur (22 April 1960) – Pramoedya Ananta Toer

simak lapak literasi genosida politik 65-66 :

Putusan Akhir Majelis Hakim International People’s Tribunal 65Rumah Baca (Pustaka) Genosida 65Kumpulan Tesis dan Disertasi Terkait Genosida 1965Supersemar, Kudeta Suharto dan Genosida 1965-1966Kudeta Suharto dan de-Soekarnoisasi : Soekarno telah dibunuh dua kali! , Menggulingkan Soeharto Sekali Lagi : Suara Mereka Yang Kalah, Suara Mereka Yang Menolak Takluk ; Pramoedya Ananta Toer dan Takdir Sejarah Max Lane : Sejarah, 1965 dan Elan Revolusi Indonesia (kompilasi artikel)Hasta Mitra (Tangan Sahabat) : Bertarung Melawan PembodohanBuku Kiri, Ultimus dan Bilven Sandalista;  “The 1965 Coup in Indonesia: Questions of Representation 50 Years Later” – LITERARY STUDIES CONFERENCE SANATA DHARMA;  Lekra, Sastra dan 1965Putu Oka Sukanta : Menulis Adalah Perjuangan Untuk HidupUmi Sardjono, Sulami, Gerwani, Fitnah Lubang Buaya dan Genosida 65‘Dance of the Missing Body’ : Mengenali Tubuh Menari dan Sejarah Kekerasan bersama Rachmi Diyah LarasatiNestapa Eksil 1965, Klayaban di ‘Pengasingan’Sastra Yang Membela Korban dan Meretas Kabut Sejarah Genosida 1965Syawal Itu MerahAmanat Konstitusi Yang Terpenggal : UUPA, Landreform, Gerakan Tani dan Genosida 65, Tak Hanya Ratusan Ribu Kepala, Proklamasi 17-8-1945 Pun Ditebas (Ekopol Genosida 1965),  Cerita-cerita #1965setiaphari;  INGAT 65 [Ceritaku ceritamu cerita kita tentang 65]Bioskop Jejak Genosida 65 (bagian 1),  Bioskop Jejak Genosida 65 (bagian 2), Bioskop Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer)Film Sang Penari : Menari Sembari Menumpang Kereta Sejarah… Tsunami Sosial-Politik 1965 Tanpa Menyisakan Luka?,  Melawan Tabu dan Kebisuan, Mensubversi Film Propaganda Hitam Pengkhianatan G30S/PKIMozaik Jejak Kiri di Indonesia : Kotak Pandora ‘Kejatuhan Suharto’ atawa Habis (di)Gelap(kan) Terbitlah Terang , [arsip] Jejak Kiri Indonesia, Gestok dan Genosida 65 – Cerita Pagi Hasan Kurniawan,   [Jasmerah] Sejarah Gerakan Kiri Yang Dihilangkan

Simak juga pameran online genosida politik 65-66 : 

PRAKATA LITERASI GENOSIDA 1965-1966Lorong Genosida (Politisida) 1965-1966Dadang ChristantoSanggar Bumi Tarung,Dolorosa SinagaElisabeth Ida Mulyani,  Dewi CandraningrumYayak YatmakaKoes KomoNobodycorp. Internationale UnlimitedKomunal Stensil, ,Didot Klasta HarimurtiMade Bayak Rangga Purbaya,  Andreas IswinartoTARINGPADIObed Bima WicandraMars NursmonoGregorius Soeharsojo Goenito,  SILENCE & ABSENCE [Adrianus Gumelar Demokrasno – Bunga Siahaan] ,   Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisnakolaborasi Jagal Bukan Pahlawan!mozaik rupa : kuburan massal 65-66 bernama ‘indonesia’ ; Awas 30 S Art Project,  Daniel Rudi HaryantoTerrorPaint-Benk Riyadi-Riza-Suhendra-Awank,Rista Dwi IKoleksi Foto Kamp Konsentrasi Tahanan Politik 65The Act of Living – Perempuan Penyintas 1965 (feature foto)Okty Budiarti – KAMI BERNYAWA : Butiran Aksara Untuk Tragedi 65Kharisma Jati (komik), Aji Prasetyo (komik), Arip Hidayat (komik), Evans Poton dkk(komik), Eko S Bimantara (Komik), Museum Bergerak 1965Museum Rekoleksi Memori,  ‘Mwathirika’ and The Victim’s Silent Tale Kesetiaan, Keteguhan, Kesunyian Hingga Akhir Hayat (Mengenang Basuki Resobowo)

SETJANGKIR KOPI DARI PLAJA hingga NYANYI SUNYI KEMBANG-KEMBANG GENJER [1965 di Panggung Teater], Paduan Suara Dialita : Salam Harapan Padamu KawanSpatial History : Pertanyaan Subversi Irwan Ahmett Soal Supersemar (Presentasi Seni)  ,  Prison SongMusik Tigapagi – SembojanAlbum Lagu Genjer-genjerEvil Wars In 1965 (Musik Benny Soebardja dkk)The Act of Killing Mixtape (kompilasi musik),  Stand Up Comedian Melawan Tabu-Melawan Lupa

 

 Biografi sastrawan PRAMOEDYA ANANTA TOER

Catastrophe – Elegi Untuk Pramudya Ananta Toer

Vocal: Mike Marjinal

Poetry & Vocal: Amien Kamil
Electric Guitar & Bass: Bob Marjinal
Drum: Boy
Cello: Jassin Burhan
Violin: Eko Partitur
Composition Music: Marjinal + Yoko Nomura
Recording: Nique’s Music Studio
Operator” Reren

Lirik:

1.
Hari itu, udara bagaikan tungku.
Sementara berhala kekuasaan
telah lama menggantikan Tuhan.
Mesin jagal bak taring srigala,
siap mengerkah siapa yang beda warna
siap menggilas lagi yang lain ideologi.

“Ssstttt….. intrik berdengung, bersiul
nyaring di bawah meja, desas-desus
berhembus Dewan Jendral kudeta.”

Hukum rimba merasuki urat nadi
menjadi duri melanda negri,
adu domba kasta jadi prahara
Tanda silang di pintu korban
sungai berdarah hanyutkan dendam
Tiada asuransi apalagi puisi
kecuali kata sandi, penentu hidup dan mati
Lewat corong penindasan kabarkan berita:
“Mereka semua sudah dikuburkan,
tunggu kabar kematian berikutnya”

Laskar serdadu penindasan
berderak menunggangi kuda kematian
menyapu kota serta desa-desa.
Perkebunan tebu jadi ladang pembantaian
lumbung kematian dan beribu korban tertanam
tanpa ritus penguburan apalagi nisan
(Mayat menggunung sepanjang Oktober 65
awan hitam membumbung di angkasa,
Pancaroba sejarah,
menelan ribuan korban mati sia-sia.)

Hari itu, hati kita membatu
terbagi dalam kubu-kubu
serta keyakinan yang semu

Langit mendung mengurung Nusantara
pembantaian massal terjadi dimana-mana,
pribumi lugu tanpa dosa
diburu, dibuang ke Pulau Buru

2.
: “Tapol”
Cap itu dilekatkan pada kami,
menghitung hari terkurung sangkar besi
dikelilingi kawat berduri
Dari kesunyian yang panjang terentang,
dikucilkan tanpa pengadilan
suara dibungkam
kesaksian diperam dalam pikiran.

“Nyai, aku sekarang terkurung disini.
Semoga di fajar mendatang,
nurani mereka tak terkebiri lagi.
Prahara sejarah tak kan terulang
dan cukuplah sekali.
Cukup sekali!”

2010.

sumber  : Amien Kamil

http://indoprogress.com/2013/09/catastrophe-elegi-untuk-pramudya-ananta-toer/


ilustrasi dari Gemuruh Bumi Manusia : Gelora Abad Pengetahuan, Gejolak Abad
Rakyat [
proyek rupa Tetralogi Buru] 
selengkapnya
 
 

Pram Membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (seri panjang dwi-bahasa)

 
 
 

Hilmar Farid : Pramoedya Mencari Rumah

 

simak

Tentang Kelahiran Bumi Manusia-Hilmar Farid

Pramoedya dan Historiografi Indonesia – Hilmar Farid

Rewriting The Nation : Pramoedya Ananta Toer and The Politics of Decolonization – Hilmar Farid Setiadi; A Thesis Submitted for Degree Of Doctor of Philosophy

 
 

Riwayat Singkat PRAMOEDYA ANANTA
TOER (1-3)

 
 
 

Petikan Pram dalam
The New Rules of the World

 
 
 

film dokumenter jalan raya pos, jalan daendels

(pencerita Pramoedya Ananta Toer)

simak di
 
 
 

Pramoedya Ananta
Toer Berbicara Multatuli

 
baca juga
 
 

Soesilo Toer :
KUKENANG PRAM DALAM PATABA

 
 

Perjuangan Joesoef
Isak bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman (1)

 
 

Perjuangan Joesoef Isak bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman (2)

 

Perjuangan Joesoef Isak bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman (3)

 
 
 
 


 



Percakapan Sitor
Situmorang dan Pramoedya Ananta Toer

 
 
 


Sitor Situmorang membaca puisi ‘Blora’ untuk Pramoedya Ananta Toer


 
Orbituari

Inside Indonesia Edition 88: Oct-Dec 2006 – Edisi Khusus Pramoedya Ananta Toer

Remembering a life well-lived – Keith Foulch

Writing to the world – Chris GoGwilt

Pramoedya was an all-round revolutionary writer.

Strong women – Joanne McMillan

Female autonomy became a prominent theme in Pramoedya’s writing.

Fighting words – Jeremy Mulholland

In his last interview, Pramoedya kept up his attack on elitism and corruption.

The politics of culture – Stephen Miller and Dorothy Meyer

Pramoedya’s reputation is still dogged by the cultural polemics of the Sukarno era

Reading Pramoedya – Pam Allen

An Australian academic describes the personal impact of Pramoedya’s writing.

A lesson in courage – Linda Christanty

An activist reflects on Pramoedya’s significance for young Indonesians.

Teacher and Friend – Putu Oka Sukanta

A younger writer remembers Pramoedya’s influence on his own life and work.

He wept for Indonesia – Hilmar Farid

Pramoedya the writer was also an historian who loved his country.

Recording Indonesia – Keith Foulcher

Pramoedya’s life and work is a conversation about Indonesia and its people.

Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) – Hilmar Farid

https://indoprogress.com/2006/05/pramoedya-ananta-toer-1925-2006/

 

Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer – Linda Christanty

https://indoprogress.com/2006/05/arus-balik-dalam-hidup-pramoedya-ananta-toer/

 

Nyanyi Sunyi Pram – Fahri Salam

https://indoprogress.com/2011/05/nyanyi-sunyi-pram/

Man of letters and revolution – Max Lane

http://www.smh.com.au/news/obituaries/man-of-letters-and-revolution/2006/05/15/1147545259473.html

Pramoedya Ananta Toer: Indonesia’s greatest novelist – Max Lane

https://www.greenleft.org.au/content/pramoedya-ananta-toer-indonesias-greatest-novelist


 



 

 

Pramoedya Ananta Toer: Why you should know him – Aljazeera

Keith Foulcher, “Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa: Pramoedya Ananta Toer Enters the 1980s”, Indonesia. Volume 32 (1981)

Takashi Shiraishi, “Reading Pramoedya Ananta Toer’s Sang Pemula [The Pioneer]”, Indonesia. Volume 44 (1987)

Barbara Hatley, “Blora Revisited”, Indonesia. Volume 30 (1980)

Rudolf Mrázek, “Only the Deaf Hear Well”, Indonesia. Volume 61 (1996)

Martina Heinschke, “Between Gelanggang and Lekra: Pramoedya’s Developing Literary Concepts”, Indonesia. Volume 61 (1996)

Sumit Mandal, “Pramoedya and independence”, New Straits Times (21 Aug 96)

James T. Siegel, “Revolutionary Stink and the Extension of the Tongue of the People: The Political Languages of Pramoedya Ananta Toer and Sukarno”. Commentary on “My Cell Mate”, Indonesia. Volume 64 (1997)

Razif Bahari, “Remembering History, W/Righting History: Piecing the Past in Pramoedya Ananta Toer’s Buru Tetralogy”, Indonesia 75 (April 2003)

Max Lane, “Pramoedya Ananta Toer”, Links 29 (Oct 09)

Alex G Bardsley, “A Political Subject: Changing Consciousness in Pramoedya Ananta Toer’s Bumi Manusia and Anak Semua Bangsa”, MA thesis (1996)

Girl from the Coast and Katharine Susannah Prichard’s Coonardoo – Ida Puspita

University of Wollongon Thesis

MA Thesis: Imagining Indonesia: Constructions of the west in the Buru Quartet Alexander Macleod

Mengapa Kita Harus Mengenal (Karya) Pramoedya Ananta Toer

 

PRAMOEDYA ANANTA TOER | SANG PEMULA YANG “MENEMUKAN” TIRTO ADHI SOERJO

 

 Mengingat Tirto Adhi Soerjo – Fokus CNN Indonesia

Kisah Kebingungan Pramoedya Ananta Toer Soal Tirto

Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers yang Dilupakan

Surat Rahasia Mata-mata Belanda tentang Tirto

Hilang Jejak Tirto Sepulang dari Pembuangan di Ambon

Bung Hatta Hingga Ki Hajar Dewantara Mengenang Tirto

 

Hidup Mati Pram – Fokus CNN Indonesia

[Februari 2016]

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/focus/hidup-mati-pramoedya-ananta-toer-2995/all

 

Pram, Hidup Mati Sang ‘Hugo’ Indonesia

Selamat Ulang Tahun, Pram

Momen Haru Pram Selepas Pulau Buru

Anak Cucu Pram ‘Kebal’ Cap Komunis

10 Suara Abadi Pramoedya Ananta Toer

Tiga Saudara dan Rasa Cinta pada Blora

Semayam Pram di Benak Keluarga

 

 

Satu Dekade Kepergian Pram – Fokus CNN Indonesia

[April-Mei 2016]

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/focus/satu-dekade-kepergian-pram-3116/all

 

Haul Pram Bergelora di Yogyakarta dan Blora

Sang Penyimpan Harta Karun Pramoedya

Pesan dalam Sepatu: Kabar Pramoedya untuk Dunia

38 Tahun Menjaga Kertas Semen Titipan Pramoedya

Tetralogi Buru Pramoedya Diselamatkan ‘Sakit Minke’

Pram Layak Disebut Novelis Terbaik Indonesia

Pentas Cinta Minke dan Sang ‘Bunga Penutup Abad’

Pramoedya di Mata Para Eks Tapol Buru

 

 

PRAMOEDYA ANANTA TOER – REDUP KEJORA PALAGAN JIWA (GOES MOEK)

Bookmark and Share
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s